Kalau ada yang bertanya, “Kamu ini penulis apa?”
Saya biasanya tersenyum dulu. Sebab jawabannya tidak sesederhana “penulis buku” atau “kolumnis”. Saya bukan penulis novel. Bukan pula penulis cerpen. Saya memang pernah mencoba menulis fiksi, tetapi entah mengapa saya selalu kembali kepada kisah-kisah yang benar-benar terjadi. Mungkin karena saya terlalu percaya bahwa kenyataan sering kali lebih mengejutkan daripada imajinasi.
Akhirnya saya menemukan jawaban yang paling pas.
Saya seorang storyteller.
Saya menulis kisah manusia. Kisah nyata. Kisah tentang perjuangan, kegagalan, harapan, dan keberhasilan seseorang. Ada yang saya tulis dalam bentuk kolom sosok yang ringkas, ada pula yang berkembang menjadi sebuah biografi setebal ratusan halaman.
Bagi saya, setiap manusia menyimpan cerita yang layak diwariskan. Persoalannya, tidak semua orang mampu menceritakannya dengan baik. Ada yang hebat bekerja, tetapi kesulitan menyusun kata. Ada yang memiliki perjalanan hidup luar biasa, tetapi bingung harus memulai dari mana. Di situlah saya merasa memiliki peran. Saya membantu mereka menemukan kembali cerita hidupnya, lalu menyusunnya menjadi sebuah narasi yang hidup.
Penulis Amerika, Maya Angelou, pernah berkata, “There is no greater agony than bearing an untold story inside you.” Tidak ada penderitaan yang lebih besar daripada menyimpan sebuah cerita yang tidak pernah diceritakan. Kalimat itu selalu mengingatkan saya bahwa setiap orang berhak memiliki kisah yang terdokumentasi dengan baik.
Selama bertahun-tahun saya menikmati pekerjaan ini. Hingga hari ini, saya bersyukur pernah dipercaya menulis biografi dua profesor, dua belas dokter, dan sekitar lima tokoh publik dari berbagai latar belakang. Masing-masing memiliki cerita yang berbeda. Ada yang penuh perjuangan sejak kecil, ada yang membangun karier dari nol, ada yang berkali-kali gagal sebelum akhirnya berhasil.
Setiap biografi mengajarkan saya satu hal: manusia jauh lebih menarik daripada sekadar gelar yang disandangnya.
Yang menarik, tidak semua buku itu terbit atas nama saya.
Ada buku yang mencantumkan nama saya sebagai penulis. Ada pula yang menggunakan nama tokohnya sendiri atau nama orang lain. Dalam dunia kepenulisan, itu bukan hal baru. Ada yang menyebutnya ghostwriter. Saya lebih senang menyebutnya sebagai seorang storyteller yang bekerja di balik layar.
Apakah saya kecewa?
Sama sekali tidak.
Justru di situlah letak keindahannya.
Saya sering bercanda kepada teman-teman bahwa profesi saya mirip seorang intel. Bekerja diam-diam, hasilnya nyata, tetapi tidak selalu diketahui banyak orang. Karena itu saya memiliki slogan pribadi. Selalu saya pegang:
“Berani untuk tidak dikenal.”
Kalimat itu bukan berarti menolak apresiasi. Bukan pula berpura-pura rendah hati. Tetapi saya percaya bahwa kontribusi tidak selalu harus disertai sorotan kamera. Tidak semua pekerjaan besar membutuhkan tepuk tangan. Ada orang-orang yang memang ditakdirkan bersinar di depan panggung. Ada pula yang memilih memastikan lampu panggung tetap menyala dari belakang layar.
Saya lumayan terbiasa menikmati posisi yang kedua itu.
Yang penting, karya itu bermanfaat. Yang penting, cerita seseorang terselamatkan. Yang penting, pengalaman hidup yang berharga tidak hilang ditelan waktu.
Begitulah. Saya terus duduk, mendengar cerita orang dan menuliskannya.
Kadang lucu juga. Saat wawancara dimulai, narasumber sering berkata, “Hidup saya biasa saja.”
Dua jam kemudian saya baru sadar bahwa “biasa saja” versi mereka ternyata pernah bangkrut, membangun usaha dari garasi, menjadi dokter di daerah terpencil, meraih gelar profesor, atau melewati berbagai ujian hidup yang luar biasa. Kalau itu masih disebut biasa, mungkin Superman juga “cuma” pegawai kantoran. Seorang jurnalis pada sebuah koran.
Semakin banyak kisah yang saya tulis, semakin saya yakin bahwa setiap manusia adalah perpustakaan berjalan. Ada rak tentang keluarga. Ada rak tentang kegagalan. Ada rak tentang mimpi. Ada pula rak yang masih terkunci rapat karena terlalu menyakitkan untuk dibuka. Tugas seorang storyteller bukan memaksa rak itu terbuka, melainkan mengetuknya dengan empati dan kesabaran.
Kini saya memiliki tantangan baru.
Saya ingin membawa penulisan biografi ke bentuk yang lebih segar.
Saya menyebutnya Novel Biografis.
Bukan berarti fakta diubah menjadi fiksi. Justru sebaliknya. Semua peristiwa tetap berdasarkan kenyataan. Semua tokohnya nyata. Semua alur tetap berpijak pada fakta. Namun penyampaiannya dibuat lebih mengalir seperti membaca sebuah novel. Pembaca diajak masuk ke dalam adegan, ikut merasakan ketegangan, kegembiraan, kesedihan, dan titik balik kehidupan tokohnya.
Saya ingin orang membaca biografi bukan karena merasa “harus”, tetapi karena tidak sabar ingin mengetahui halaman berikutnya.
Penulis dan pakar storytelling Robert McKee pernah mengatakan, “Storytelling is the most powerful way to put ideas into the world today.” Saya percaya, cerita bukan sekadar hiburan. Cerita adalah cara paling manusiawi untuk mewariskan pengalaman, nilai, dan kebijaksanaan.
Karena itulah saya ingin terus menjadi storyteller. Menulis bukan sekadar siapa seseorang, tetapi bagaimana ia menjadi dirinya hari ini. Menyelamatkan pengalaman hidup agar dapat menginspirasi orang lain.
Mungkin suatu hari nanti orang tidak lagi bertanya, “Ini novel atau biografi?”
Melainkan bertanya, “Benarkah semua ini pernah terjadi?”
Dan saya akan menjawab dengan senyum kecil, “Ya. Kehidupan sering kali jauh lebih hebat daripada cerita yang kita bayangkan.”
Begitulah saya memandang profesi ini. Saya bukan hanya penulis. Saya adalah seorang storyteller. Saya bekerja di belakang layar, merangkai serpihan kehidupan menjadi sebuah kisah yang layak dikenang. Dan jika suatu hari nama saya terlupakan, tetapi cerita-cerita yang saya tulis tetap hidup dan menginspirasi banyak orang, bagi saya itu sudah lebih dari cukup.
Itu sebabnya, bukan soal siapa yang menulis cerita. Melainkan cerita apa yang berhasil mengubah cara seseorang memandang hidup. Nah, kini saya sudah mengumumkan sedikit cerita tentang saya. Nanti, ketika ada tokoh atau siapapun yang ingin dituliskan biografinya, tentu sudah tahu siapa yang harus dihubungi. Ahai. Terimakasih.
Salam
Yons Achmad
Storyteller
Pendiri Brandstory.id

Comment