Kalau boleh menggambarkan Rocky Gerung dalam tiga kata, saya akan memilih: kritis, arogan, dan dungu. Tiga kata yang terdengar keras, bahkan mungkin terasa tidak Rocky banget kalau tidak disertai sedikit kontroversi. Tetapi begitulah Rocky. Ia memang tumbuh sebagai sosok yang akrab dengan kata-kata keras, perdebatan, dan panggung yang penuh sorotan.
Kita mengenalnya sebagai intelektual publik yang hampir selalu ada di mana-mana. Dari panggung diskusi ke panggung diskusi, dari televisi ke podcast, dari satu kanal YouTube ke kanal lainnya. Rocky seperti tidak pernah kehabisan panggung. Kalau politisi sibuk mencari konstituen, Rocky tampaknya sibuk mencari forum untuk berdebat. Ia “ngamen” dari satu panggung ke panggung lain, membawa gitar yang tidak kelihatan: logika, filsafat, dan sederet istilah yang kadang membuat lawan bicaranya harus menarik napas lebih panjang.
Soal kritis, rasanya tidak banyak yang membantah. Rocky memang kritis. Ia punya kemampuan membongkar persoalan dengan cara yang berbeda. Sesuatu yang bagi orang lain terlihat sederhana, di tangan Rocky bisa berubah menjadi persoalan filsafat. Ia senang mencari celah, membalik pertanyaan, menguji argumen, dan melihat sesuatu dari sisi yang tidak terpikirkan orang lain.
Tidak heran jika dalam banyak perdebatan lawan bicaranya sering terlihat gelagapan. Belum selesai menjawab pertanyaan pertama, sudah muncul pertanyaan kedua. Belum selesai memahami istilah yang pertama, muncul istilah berikutnya. Rocky seperti orang yang datang ke pertandingan debat bukan membawa satu peluru, tetapi satu magasin.
Namun, ada satu persoalan dari gaya Rocky: kritis kadang berjarak sangat tipis dengan arogan.
Kalimat seperti, “Saya terangkan pelan-pelan ya,” terdengar sederhana. Tetapi ketika keluar dari mulut Rocky, kalimat itu seolah mengandung pesan tambahan: “Anda belum paham, biar saya yang menjelaskan.” Lalu ada kata “ngaco”, yang cukup sering menjadi bumbu dalam perdebatan. Dan tentu saja, yang paling terkenal adalah kata “dungu.”
“Dungu” barangkali sudah menjadi salah satu kosakata paling populer dalam kamus Rocky Gerung. Ia melemparkannya kepada orang lain dengan penuh percaya diri. Begitu seringnya kata itu digunakan, sampai-sampai publik mungkin hafal siapa saja yang pernah mendapatkan “gelar kehormatan” tersebut.
Tetapi kehidupan memang sering punya selera humor sendiri. Kata yang paling sering kita gunakan untuk orang lain, suatu hari bisa berbalik mengetuk pintu kita sendiri.
Dan di sinilah cerita Rocky menjadi menarik.
Bertahun-tahun ia dikenal sebagai intelektual yang berada di luar kekuasaan. Berdiri di luar pagar, mengamati orang-orang di dalam, lalu mengkritiknya. Ia menjadi suara yang keras ketika kekuasaan dianggap keliru. Ia menjadi pengingat ketika para penguasa mulai terlalu nyaman dengan kursinya.
Posisi di luar kekuasaan itulah yang membuat Rocky memiliki kebebasan untuk bicara. Ia tidak punya jabatan yang harus dipertahankan. Tidak punya kursi yang harus dijaga. Tidak perlu memikirkan apakah kritiknya membuat atasan marah atau tidak.
Tetapi kini Rocky masuk ke kolam kekuasaan.
Di sinilah publik kemudian tersenyum. Bukan karena seorang intelektual tidak boleh masuk pemerintahan. Boleh saja. Tidak ada aturan bahwa seorang pengkritik kekuasaan harus selamanya menjadi penonton.
Yang menarik adalah perubahan posisinya.
Dulu Rocky berdiri di luar kolam sambil mengomentari orang-orang yang berenang di dalamnya. Sekarang ia ikut turun ke air.
Publik pun wajar bertanya: apakah setelah masuk kolam ia masih akan mengatakan airnya keruh?
Sebab kekuasaan memang sering begitu. Ketika kita berada di luar, semuanya terlihat jelas. Begitu masuk ke dalam, pandangan bisa berubah. Yang dulu terlihat sebagai kompromi, setelah menjadi bagian dari kekuasaan bisa disebut strategi. Yang dulu disebut pragmatisme, setelah kita sendiri melakukannya bisa disebut realisme.
Di sinilah Rocky sedang diuji.
Bukan lagi diuji kemampuan berdebat. Bukan lagi diuji kemampuan membuat lawan bicara kehilangan kata-kata. Bukan pula diuji seberapa banyak istilah filsafat yang bisa ia keluarkan dalam satu forum.
Ia sedang diuji oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana: konsistensi.
Apakah Rocky yang masuk kekuasaan masih Rocky yang dulu gemar mengkritik kekuasaan?
Kalau iya, tentu menarik. Bahkan sangat menarik. Sebab kita akan melihat seorang intelektual masuk ke dalam kekuasaan tanpa kehilangan keberanian untuk mengkritiknya.
Tetapi kalau tidak, publik tentu punya hak untuk tersenyum sambil berkata: “Lho, bukankah dulu Anda yang paling rajin menjelaskan?”
Maka sebutan “dungu” dalam tulisan ini bukanlah tuduhan bahwa Rocky tidak cerdas. Justru orang cerdas pun bisa mengambil keputusan yang keliru. Orang pintar bisa terjebak dalam paradoks. Seorang intelektual bisa mengalami kontradiksi. Dan seorang pengkritik kekuasaan pun bisa suatu hari tergoda untuk mencicipi kekuasaan.
Itulah Rocky Gerung.
Ia kritis. Sangat kritis.
Ia arogan. Setidaknya dalam gaya dan cara bertutur yang sering membuat orang merasa sedang diberi kuliah. Dan ia bisa menjadi “dungu” ketika kecerdasan yang selama ini ia banggakan justru membawanya pada pilihan yang membuat publik mempertanyakan konsistensinya.
(Yons Achmad. Pengamat Komunikasi)

Comment