Di tengah situasi ekonomi yang semakin menantang, saya semakin percaya bahwa communication skills bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan salah satu modal penting untuk bertahan hidup. Ketika biaya hidup meningkat, persaingan kerja semakin ketat, dan kesempatan ekonomi tidak selalu datang dengan mudah, kita sering kali berfokus pada kemampuan teknis, pendidikan, atau seberapa keras kita bekerja.
Padahal, ada satu hal yang tidak kalah penting: kemampuan mengomunikasikan apa yang kita ketahui, apa yang kita butuhkan, dan persoalan apa yang sedang kita hadapi. Bagi saya, banyak masalah sebenarnya memiliki peluang untuk menemukan jalan keluar ketika dikomunikasikan dengan baik kepada orang yang tepat, melalui saluran yang tepat, dan pada lembaga yang memiliki kewenangan untuk menanganinya.
Gampangnya, semua masalah bisa diselesaikan asal “Dikomunikasikan”. Ya, pada “Orang yang Tepat” dan pada “Lembaga yang Tepat”.
Saya melihat komunikasi tak sekadar kepandaian berbicara atau merangkai kata-kata yang meyakinkan. Lebih dari itu, komunikasi adalah kemampuan menjelaskan persoalan secara jelas, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memahami perspektif orang lain, membangun kepercayaan, dan mengarahkan percakapan menuju solusi. Joseph A. DeVito dalam The Interpersonal Communication Book (2022) membahas bagaimana komunikasi interpersonal berperan dalam membangun hubungan, mengelola konflik, dan mencapai tujuan interaksi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan ini dapat membantu kita menyampaikan aspirasi kepada atasan, bernegosiasi mengenai gaji, menjelaskan nilai produk kepada calon pelanggan, atau meminta kejelasan atas layanan yang menjadi hak kita. Sebab, memiliki kompetensi saja terkadang tidak cukup; kita juga perlu mampu mengomunikasikan kompetensi tersebut agar dipahami dan dihargai orang lain.
Dalam konteks ekonomi, saya percaya komunikasi bahkan dapat menjadi semacam modal sosial yang membantu kita membuka peluang. Seseorang mungkin memiliki kemampuan kerja yang baik, tetapi kesulitan memperoleh pekerjaan karena tidak mampu menjelaskan pengalaman dan kontribusinya dengan efektif. Seorang pelaku usaha kecil mungkin mempunyai produk berkualitas, tetapi belum berhasil menjangkau pelanggan karena belum memahami cara menyampaikan nilai produknya.
Di sinilah kemampuan membangun relasi, melakukan negosiasi, dan mengartikulasikan gagasan menjadi penting. Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menempatkan empati dan mendengarkan secara aktif sebagai keterampilan yang relevan bagi dunia kerja, bersama kemampuan berpikir analitis, kreativitas, dan adaptabilitas. Bagi saya, ini menegaskan bahwa di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, kemampuan memahami manusia dan menyampaikan gagasan tetap memiliki nilai yang signifikan.
Namun, ada satu hal yang menurut saya lebih penting daripada sekadar keberanian berbicara: mengetahui kepada siapa kita harus berbicara. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh orang yang sama, dan tidak semua keluhan akan efektif jika disampaikan melalui saluran yang keliru. Persoalan administrasi perlu diarahkan kepada unit yang berwenang; persoalan pekerjaan mungkin perlu dibicarakan dengan atasan atau bagian sumber daya manusia; sedangkan persoalan konsumen dan pelayanan publik dapat memerlukan mekanisme pengaduan formal.
Artinya, keterampilan komunikasi juga menuntut kemampuan memahami prosedur, menyusun bukti, mengajukan pertanyaan yang relevan, dan mengetahui kapan sebuah persoalan perlu dieskalasikan. Dalam Getting to Yes: Negotiating Agreement Without Giving In (1991), Roger Fisher, William Ury, dan Bruce Patton menekankan pentingnya memahami kepentingan di balik posisi masing-masing pihak dan mencari alternatif penyelesaian yang dapat diterima. Pendekatan ini mengingatkan saya bahwa komunikasi bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan menemukan ruang penyelesaian yang sebelumnya mungkin tidak terlihat.
Saya juga meyakini bahwa komunikasi yang efektif harus dimulai dengan kesediaan mendengarkan. Dalam situasi ekonomi yang sulit, kita mudah merasa frustrasi ketika permohonan ditolak, negosiasi gagal, atau bantuan yang diharapkan tidak kunjung datang. Akan tetapi, mendengarkan dapat membantu kita memahami apakah penolakan tersebut disebabkan keterbatasan sumber daya, persyaratan yang belum terpenuhi, kesalahpahaman, atau faktor lain yang masih bisa ditindaklanjuti.
Amy C. Edmondson dan Zhike Lei, dalam artikel “Psychological Safety: The History, Renaissance, and Future of an Interpersonal Construct” yang terbit di Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior (2014), membahas pentingnya keamanan psikologis dalam mendorong orang untuk bertanya, menyampaikan kekhawatiran, dan mengemukakan pendapat. Perspektif ini penting karena komunikasi bukan hanya tanggung jawab individu; organisasi dan institusi juga harus menyediakan ruang yang aman dan responsif agar persoalan dapat disampaikan tanpa intimidasi atau pembalasan.
Tentu saja, saya tidak sedang mengatakan bahwa semua masalah ekonomi dapat diselesaikan hanya dengan komunikasi. Pengangguran, ketimpangan pendapatan, upah yang tidak memadai, dan keterbatasan akses terhadap layanan publik juga berkaitan dengan struktur ekonomi, kebijakan, serta tanggung jawab institusi. Namun, di tengah berbagai keterbatasan tersebut, komunikasi dapat membantu kita memperluas pilihan dan memperjuangkan kepentingan secara lebih terarah. Kita bisa belajar menyampaikan keberatan dengan bukti yang jelas, mengajukan pertanyaan sebelum mengambil keputusan, mendokumentasikan persoalan, membangun jaringan profesional, serta menggunakan mekanisme pengaduan yang sah.
Dengan demikian, komunikasi bukan jalan pintas untuk mengakali sistem, melainkan cara untuk memahami dan berinteraksi dengan sistem secara lebih efektif. Kita mungkin tidak selalu mendapatkan jawaban yang diinginkan, tetapi setidaknya kita memiliki kesempatan lebih besar untuk mengetahui pilihan yang tersedia dan menentukan langkah berikutnya.
Kini, bagi saya, communication skills for “in this economy” singkatnya tentang kemampuan untuk tetap memiliki daya tawar di tengah ketidakpastian. Kita memang perlu bekerja keras, terus belajar, menguasai teknologi, dan meningkatkan kompetensi. Namun, kita juga perlu belajar menjelaskan nilai diri, menyampaikan kebutuhan, memahami kepentingan orang lain, dan menghubungkan persoalan dengan pihak yang tepat.
Saya percaya bahwa tidak semua pintu tertutup; terkadang kita belum mengetahui cara mengetuknya, kepada siapa harus meminta penjelasan, atau bagaimana menyampaikan persoalan agar dapat ditindaklanjuti. Komunikasi bukan jaminan bahwa hidup akan menjadi mudah, tetapi ia dapat membantu kita agar tidak kehilangan pilihan sebelum mencarinya.
Sebab, dalam ekonomi yang menuntut kita untuk terus beradaptasi, banyak persoalan mungkin tidak langsung selesai hanya dengan berbicara, tetapi tidak sedikit pula yang sulit menemukan jalan keluar karena tidak pernah dikomunikasikan dengan benar. Begitulah, sampai saat ini saya masih yakin seperti yang saya ungkap di awal. Masalah sebesar apapun, akan dapat diselesaikan jika diawali dengan “Dikomunikasikan”. Pada “Orang yang Tepat” pada “Lembaga yang tepat”.
(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. CEO Brandstory.id)

Comment