Mau bikin podcast? Boleh simak sedikit cerita sederhana saya. Sekadar berbagai pengalaman. Membuat podcast bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana. Tinggal punya kamera, mikrofon, narasumber, lalu ngobrol. Tapi ketika benar-benar menjalaninya, ternyata ada banyak hal yang harus dipikirkan: mulai dari ide, tujuan, tempat produksi, tim, biaya, kendala teknis, sampai bagaimana podcast tersebut setelah tayang.
Saya mengalami sendiri proses itu ketika mendirikan Podcast Depok. Dari pengalaman tersebut, saya kemudian bersama tim Brandstory.id mengembangkan kemampuan produksi podcast dan membantu lahirnya beberapa podcast lain.
Berikut kisah dan langkah yang saya lalui ketika mewujudkan podcast pertama saya.
1. Find Your First Podcast Idea
Sebagai pemula, tentu saya juga melihat podcast-podcast besar yang sudah lebih dulu populer. Ada Close The Door Deddy Corbuzier, podcast Denny Sumargo, Raditya Dika, hingga PWK Pras Teguh.
Tapi saya berpikir, kalau baru mulai, mengapa harus mengikuti apa yang sudah ramai?
Saya justru berpikir untuk mencari sesuatu yang lebih unik. Sesuatu yang dekat dengan kehidupan saya dan belum banyak dibuat orang.
Akhirnya muncul gagasan: mengapa tidak membuat podcast lokal?
Dari situlah lahir Podcast Depok.
Podcast ini kemudian membicarakan berbagai pernak-pernik Kota Depok, dengan narasumber yang sebagian besar juga merupakan warga Depok. Kami membicarakan orang, persoalan, potensi, hingga berbagai cerita menarik yang ada di kota tersebut.
Dari sini saya belajar: ide podcast tidak harus selalu besar. Ide yang dekat dengan kita justru bisa menjadi kekuatan.
2. Define Your Podcast Purpose
Setelah menemukan ide, pertanyaan berikutnya adalah: untuk apa podcast ini dibuat?
Saya memang ingin Podcast Depok mendapatkan banyak penonton. Tetapi sejak awal, jumlah penonton bukan satu-satunya tujuan.
Tujuan utamanya adalah menjadikan podcast sebagai ruang untuk membicarakan berbagai persoalan publik di Depok.
Kami mengangkat persoalan sampah, kemacetan, UMKM, talenta Depok, startup, tokoh budaya, komunitas, hingga berbagai isu lain yang berkembang di masyarakat.
Harapannya sederhana: membicarakan persoalan, menghadirkan orang-orang yang memahami persoalan tersebut, kemudian mencari kemungkinan solusi.
Jadi, podcast bukan hanya tempat ngobrol. Ia bisa menjadi ruang bertukar gagasan.
3. Start With What You Have
Lalu muncul pertanyaan klasik: bagaimana cara memulainya?
Saya sendiri ketika memulai Podcast Depok belum memiliki studio podcast.
Yang saya punya adalah kamera, mikrofon, dan beberapa perangkat pendukung produksi.
Apakah harus menunggu punya studio sendiri?
Tidak.
Kami kemudian bekerja sama dengan sebuah studio foto. Tempat tersebut kami sulap menjadi studio podcast dadakan.
Dari ruang itulah kemudian sejumlah episode Podcast Depok diproduksi dan tayang.
Pengalaman ini mengajarkan saya satu hal: jangan menjadikan keterbatasan fasilitas sebagai alasan untuk tidak memulai.
Gunakan apa yang ada. Cari cara. Berkolaborasi.
Karena podcast pertama tidak harus diproduksi di studio yang mahal.
4. Build Your Podcast Team
Lantas, bagaimana dengan sumber daya manusia?
Dalam produksi Podcast Depok, saya sendiri bertindak sebagai host sekaligus perancang program.
Saya menyusun tema podcast untuk satu tahun, dengan jadwal sekitar satu episode setiap minggu. Saya juga menyiapkan daftar narasumber yang akan dihadirkan.
Untuk produksi, kami bekerja sama dengan kamerawan dan editor video.
Bagi saya, setidaknya ada tiga peran penting dalam produksi podcast:
Host, kamerawan, dan editor.
Host menghidupkan percakapan. Kamerawan memastikan visual terekam dengan baik. Editor mengolah seluruh bahan rekaman menjadi tayangan yang siap dinikmati.
Tentu, dalam produksi yang lebih besar, timnya bisa lebih banyak. Tetapi untuk memulai, jangan membayangkan harus memiliki tim yang terlalu besar.
Mulailah dengan tim yang benar-benar dibutuhkan.
5. Find Your Funding Model
Pertanyaan berikutnya tentu soal biaya.
Produksi podcast membutuhkan biaya. Ada biaya peralatan, studio, SDM, editing, dan berbagai kebutuhan produksi lainnya.
Pada awalnya, saya tidak membiayai seluruh produksi seorang diri.
Saya memilih membangun kerja sama dan mendapatkan investor yang membiayai produksi Podcast Depok.
Dengan skema tersebut, tim produksi mendapatkan bayaran. Host, kamerawan, editor, termasuk narasumber yang hadir juga mendapatkan uang transport.
Bagi saya, ini menjadi pelajaran penting bahwa podcast juga bisa dibangun melalui kolaborasi.
Tidak semuanya harus dikerjakan dan dibiayai sendiri.
6. Handle the Unexpected
Dalam produksi podcast, tentu tidak semuanya berjalan sesuai rencana.
Pernah ada narasumber yang tiba-tiba sakit dan batal hadir. Kalau produksi tetap harus berjalan, kami harus cepat mencari pengganti.
Ada pula persoalan teknis. Misalnya suara ternyata tidak masuk dengan baik sehingga proses rekaman harus diulang.
Situasi seperti itu tentu membuat produksi menjadi lebih rumit.
Tetapi itulah dunia produksi.
Kendala pasti ada.
Yang membedakan adalah bagaimana kita meresponsnya.
Semakin sering membuat podcast, semakin tinggi jam terbang. Dari sana kita belajar mengantisipasi masalah, menyiapkan rencana cadangan, dan mengambil keputusan dengan lebih cepat.
Podcast yang terlihat mulus di layar, sering kali lahir dari proses produksi yang penuh improvisasi di belakang layar.
7. After the Podcast Goes Live
Lalu, setelah podcast tayang, apa yang terjadi?
Ternyata ceritanya tidak berhenti.
Beberapa episode mendapatkan respons yang cukup baik dari publik. Bahkan, kami juga mendapatkan perhatian dan respons dari lingkungan Pemerintah Kota Depok.
Menariknya lagi, hubungan dengan narasumber tidak selalu berhenti setelah kamera dimatikan.
Dari pertemuan melalui podcast, kami kemudian bisa membangun komunikasi dan kerja sama di luar produksi podcast.
Di sinilah saya melihat bahwa podcast bukan hanya menghasilkan konten.
Podcast juga bisa menghasilkan relasi, jaringan, dan peluang kolaborasi baru.
8. Turn Experience Into Expertise
Dari pengalaman mengelola Podcast Depok, saya dan tim Brandstory.id kemudian semakin memahami seluk-beluk produksi podcast.
Mulai dari menemukan ide, menentukan tema, menyiapkan narasumber, menyiapkan peralatan, produksi, editing, sampai publikasi dan pengelolaan setelah tayang.
Akhirnya, pengalaman tersebut membawa kami pada peran baru.
Kami mulai diminta membantu dan menjadi konsultan bagi pihak-pihak yang ingin membuat podcast.
Beberapa podcast yang kemudian kami bantu antara lain Podcast Eduwakaf dan Podcast Dokter Bicara.
Jadi, podcast pertama yang saya buat ternyata bukan hanya menghasilkan sebuah tayangan.
Ia juga menjadi sekolah pengalaman yang kemudian melahirkan kemampuan dan pekerjaan baru.
9. Make Your First Podcast Happen
Inilah kisah singkat saya ketika mewujudkan podcast pertama.
Dari hanya memiliki kamera dan mikrofon, mencari tempat produksi, membangun tim, mencari pendanaan, menghadapi berbagai kendala, hingga akhirnya Podcast Depok bisa tayang dan berkembang menjadi pengalaman yang membawa kami ke berbagai produksi podcast lainnya.
Kalau kamu saat ini baru memiliki ide podcast, jangan terlalu lama berada pada tahap berpikir.
Tidak harus punya studio sendiri. Tidak harus memiliki peralatan mahal. Tidak harus langsung memiliki ribuan penonton.
Yang paling penting adalah punya ide, tahu tujuannya, lalu berani memulai.
Karena podcast pertama tidak harus sempurna.
Podcast pertama harus diwujudkan.
Nah, kalau kamu ingin membuat dan mewujudkan podcast pertamamu, saya siap membantu dari mulai ide, konsep, produksi, SDM, peralatan, sampai podcast tayang dan pascatayang. Terimakasih.
Yons Achmad
Host Podcast. Pendiri Brandstory.id.
WA: 085282974648
(DIBALIK LAYAR PODCAST DEPOK)
(REBRANDING KOTA DEPOK: DEPOK KOTA SEJUTA TALENTA)
(SOCIOPRENEUR SEBAGAI PROFESI)
(DEPOK KOTA LITERASI, MUNGKINKAH?

Comment