Saya sudah menulis buku berjudul “OTW Personal Branding”. Berisi 45 kolom seputar personal branding. Lebih banyak berisi pencerahan pemikiran (mindset) tentang personal branding. Dari beragam pembaca buku saya, beberapa menyarankan dilengkapi dengan hal-hal yang sifatnya teknis sebagai pendukung.
Baiklah, kita coba. Kali ini, saya akan coba jelentrehkan bagaimana “tips” menulis untuk personal branding. Sebuah siasat untuk melejitkan karier dan bisnismu. Simak ya.
- Know Your Personal Brand Before You Write
Kenali Personal Brand Anda Sebelum Menulis
Betul. Sebelum berpanjang lebar, kenali dirimu. Personal branding sebagai apa yang ingin dikenalkan kepada publik. Apa keunggulan pengetahuan, pengalaman dan skill (keahlian) yang paling bisa diandalkan. Temukan itu sebelum jauh melangkah.
2. Write with a Clear Purpose
Menulis dengan Tujuan yang Jelas
Saya sendiri punya prinsip “Menulis untuk Seseorang,” bukan “Menulis untuk Orang”. Artinya, ketika menulis saya punya tujuan jelas ditujukan untuk siapa tulisan itu. Entah itu tokoh publik tertentu, lembaga tertentu atau komunitas tertentu. Artinya, tidak menulis untuk orang kebanyakan. Walau, ketika orang, entah siapa membaca tulisan kita, tak jadi soal. Tapi, kita tetap punya tujuan, siapa yang harus baca tulisan kita itu.
3. Define Your Target Audience
Tentukan Siapa Audiens Anda
Ini masih agak nyambung dengan yang di atas. Umpamanya, saya sebagai praktisi komunikasi menulis artikel berjudul “Penyiaran Ramah Anak.” Saya memang boleh jadi menulis dan biasa dibaca siapa saja. Tapi, saya tetap merencanakan tulisan itu dibaca oleh para komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atau Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Harapannya, ada kolaborasi dengan lembaga itu ke depannya. Mereka contoh target tulisan saya.
4. Develop Your Authentic Voice
Bangun Gaya Menulis yang Autentik
Orang sekarang bisa menulis dengan bantuan AI. Apa yang tidak bisa dikerjakan AI? Salah satunya cerita berdasarkan pengalaman pribadi, buku dan referensi yang pernah kita baca, perjumpaan dengan tokoh tertentu dengan detail waktunya. Hal-hal ini bisa mendukung autentisitas penulis. Diselingi dengan humor tipis-tipis boleh juga atau dengan kata-kata khas penulis, seperti “gaes” atau “Wwkwkwkwk”. Itu contoh saja.
5. Tell Stories That Build Trust
Gunakan Storytelling untuk Membangun Kepercayaan
Tulisan AI biasanya kaku. Mungkin, tetap bisa digunakan. Tapi biasanya, terkesan ada jarak. Makanya, kita perlu bangun storytelling berdasarkan kisah pribadi, sentuhan atau keterkaitan dengan cerita-cerita orang lain, di mana kita punya kaitan juga dengannya. Dengan begitu, kepercayaan bakal tumbuh. Orang tidak bakal bilang cerita kita mengada-ada dan ngawur.
6. Share Knowledge, Not Just Opinions
Bagikan Pengetahuan, Bukan Sekadar Opini
Ya. Orang memang boleh beropini. Tapi, ada pilihan lain, seperti “Berbagi perspektif”. Biasanya, tidak sekadar opini pribadi yang sangat subyektif. Tapi, ketika didukung oleh pengetahuan, baik dari buku-buku, pemikiran tokoh, penelitian yang sudah dipublikasikan di berbagai jurnal, bisa menambah otoritas kita. Bukan dikenal sebagai orang yang “asal njeplak” alias asal bicara, komentar semaunya.
7. Create Consistent Content Across Platforms
Bangun Konsistensi Konten di Berbagai Platform
Artinya, konsisten membaca tema besar dari kompetensi kita. Memublikasikannya di beragam platform. Biasanya, orang yang menulis tema tertentu, secara rutin, dalam jangka waktu yang lama, bakal dilirik. Mungkin dirinya bukan pakar dengan latar belakang Pendidikan yang sesuai bidangnya. Tapi, konsistensi menulis, apa boleh buat, menjadikan dirinya dipercaya. Sementara, ada pakar yang sebenarnya mumpuni dibidangnya, tapi karena dirinya tak menulis, tak ada orang yang tahu kepakarannya.
8. Build Authority Through Valuable Writing
Bangun Otoritas Melalui Tulisan yang Bernilai
Berjuanglah sampai menjadi thought leader. Artinya, karena kita konsisten bangun otoritas melalui tulisan, menjadikan kita menonjol, unggul dibandingkan dengan yang lain. Kenapa? Karena dengan rutunitas kita menulis. Apalagi selalu tak ketinggalan membahas isu yang berkembang sesuai bidang yang memang digelutinya, maka orang akan bisa menilai beragam pemikiran dirinya ketika isu itu datang. Tak heran ketika ada isu yang serupa, banyak media, wartawan atau produser podcast bakal meliriknya sebagai narasumber yang punya otoritas bicara. Kalau sedang beruntung, tawaran kolaborasi menjadi berdatangan.
9. Grow Your Personal Brand with Continuous Writing
Kembangkan Personal Brand Melalui Kebiasaan Menulis
Apakah kepakaran kita hanya boleh mentok di satu bidang? Tidak. Ada orang yang rajin menulis. Umpamanya, dirinya seorang pakar perencana keuangan. Sudah diakui dibidangnya. Tapi dirinya juga sering berbagi cerita tentang hobinya berkebun secara hidroponik. Di sini, kebiasaan menulis tetap bisa terus membangun personal branding lintas bidang. Tak masalah. Semua itu bisa terus terjaga. Tak lain tak bukan dengan jalan konsistensi menulis.
Begitu gaes, masih agak teoritis ya. Tapi, bolehlah hal-hal di atas, sebagai pemantik saja. Satu hal yang pasti, menulis untuk personal branding berbeda dengan menulis untuk keperluan-keperluan lain. Semoga “tips” di atas bisa membantu. Selamat menulis gaes untuk terus lejitkan karier dan bisnismu. Terimakasih.
Salam
Yons Achmad
Praktisi Komunikasi
Pendiri Brandstory.id

Comment