Ridwan Kamil sayang, Ridwan Kamil Malang.
Alkisah, karier politik sosok ini terlihat mulus. Pernah melenggang mulus menjadi Walikota Bandung, pernah menjadi Gubernur Jawa Barat. Tentu, bukan orang sembarangan. Sosoknya tak hanya dikenal sebagai tokoh lokal. Tapi kemudian dikenal di level nasional.
Di dunia akademik, dunia kampus, ketika saya longok beberapa jurnal ilmiah, banyak dosen dan peneliti yang menjadikan kiprah Kang Emil sebagai semacam “best practice personal branding”, sebuah contoh bagaimana keberhasilan membangun personal branding (politik) yang bisa dijadikan pelajaran berharga bagi tokoh politik lainnya. Sampai di sini, Ridwan Kamil kemudian dinilai sebagai sosok politisi yang digadang-gadang kelak jadi pemimpin nasional.
Sayang, karier politik tak selamanya mulus jalannya. Dalam sebuah peristiwa politik, tanpa kampanye, tinggal ongkang-ongkang kaki saja, Kang Emil konon dinilai bakal bisa memenangkan kontestasi dalam pemilihan Gubernur Jakarta. Tapi ternyata kabar buruk yang datang, dia kalah di pilkada Jakarta 2024.
Saat kekalahan itu datang pun, masih ada analisis pembelaan. Konon bukan disebabkan karena ketokohan Kang Emil yang bermasalah, tapi, seperti dikatakan pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya yang mengatakan bahwa kekalahan itu karena blunder timses yang tak merangkul massa “Anak Abah” (Anies Baswedan). Apapun itu, pasca kekalahan itu, pamornya menjadi begitu surut.
Sosok ini, sebagai tokoh yang awalnya dikenal sangat social media savvy (selalu update di media sosial), dinilai cukup asyik dalam bermedia sosial, begitu juga sering mengumbar keromantisan dengan istrinya yang publik mengenalnya dengan “Bu Cinta”. Singkat cerita, dinilai “Sempurna”. Namun, pasca kekalahan dalam pilkada, semua berubah drastis.
Mulai muncul kasus dugaan perselingkuhan dengan Lina Mariana, selebgram yang blakblakan beberkan hubungan khusus dirinya dengan Kang Emil di media sosial. Sampai di sini, sosok Kang Emil masih terlihat “Kokoh dan Kuat”. Tapi, ketika ternyata “Bu Cinta,” dari berita yang beredar menggugat cerai dirinya, citra menjadi runtuh seketika, dengan kembang-kembang lain muncul dugaan perselingkuhan khusus juga dengan artis “Aura kasih”.
Memang, ada yang menilai beragam dugaan kasus perselingkuhan hanya kembang-kembang. Kasus gaek sebenarnya adalah dugaan korupsi Iklan Bank BJB yang membuatnya berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apapun itu, isu terus digoreng. Konon pula “Intel Plat merah” juga memainkan isu dugaan perselingkuhan ini untuk menutupi kasus beragam isu penting “Tragedi Banjir dan longsor Sumatra”. Sementara, para politisi yang “Kecewa dan sakit hati” jadikan momentum ini sebagai ajang balas dendam politik ke Kang Emil.
Kini, sebagai “Brand politik”, sepertinya sosok Kang Emil mengalami apa yang disebut dengan “Brand Fatigue”. Dalam arti brand sendiri mengalami “Kelelahan” sementara “Konsumen” (netizen) sendiri mengalami “Kebosanan” karena kemungkinan adanya “Overexposure” alias paparan berlebihan di media sosial yang sudah terjadi sekian lama.
Apakah dengan demikian, personal branding Kang Emil dan karier politik Kang Emil bakal tamat di perhelatan pemilu 2029 nanti? Prediksi saya bukan tamat, tapi sulit. Hanya kabar baiknya, dalam politik, sulit itu kategori bisa.
Kenapa? Orang Indonesia mudah lupa. Lihat saja, berapa banyak orang-orang yang moralnya buruk, mulutnya kotor, bahkan mantan koruptor tetap bisa melenggang kembali mendapatkan kekuasaan. Itulah Indonesia gaess. Tak peduli seberapa dalam engkau jatuh, masih ada kemungkinan untuk bangkit. Reputasi sebobrok apapun, bisa dibangun kembali. []
(Yons Achmad. Pengamat Komunikasi. Pendiri Brandstory.id)

Comment