Setiap tanggal 9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional. Sebuah tanggal yang dipilih untuk kenang kelahiran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tahun 1946 lalu. Tahun ini, adakah yang baru dari pers kita? Sebuah momentum peringatan yang sepertinya lengang saja. Tanpa sambutan yang gegap gempita dan meriah. Hari Pers tahun ini, dirayakan dengan kesunyian.
Pertanyaan sederhana, pers era baru kita semacam apa?
Kalau kita tengok sejarah, kita pernah punya tokoh pers (jurnalis) legendaris bernama Mochtar Lubis, pemimpin Harian “Indonesia Raya”, sebuah media yang sangat kritis kepada pemerintah. Media yang pernah dibredel oleh Presiden Soekarno, begitu juga dibredel oleh pemeritahan Soeharto. Mochtar Lubis, sosok yang dikenal sebagai “Wartawan yang berani, pelawan semua yang batil”
Bung Mochtar, seperti dalam pengamatan Atmakusumah Astraatmadja (mantan Ketua Dewan Pers), adalah wartawan yang mempunyai komitmen. Dialah tipe ideal seorang journaliste engage, wartawan yang menjadi wartawan karena mempunyai komitmen, ada perjuangan yang ingin dilaksanakan.
Adakah pers yang masih “galak” semacam itu? Saya kira masih. Salah satu yang paling menonjol saat ini, tak lain tak bukan “Tempo” dengan Goenawan Mohammad sebagai pendirinya. Media ini, masih cukup keras mengkritik beragam kebijakan kekuasaan dalam liputan-liputan investigasinya. Berat memang pekerjaan demikian, belum lagi tantangan seperti “Teror Kepala Babi” yang menghatui kerja-kerja profesional kewartawanan.
Corak yang kritis tapi agak “Sejuk dan Sopan”, masih diduduki “Kompas”. Media yang cenderung ke depankan tujuan edukatif dan menjauhi sikap provokatif. Sikap “Kritis Tapi Main Aman”. Ini yang dilakukan “Kompas”. Atas sikap yang demikian, membuat media ini masih bertahan hingga sekarang.
Jakoeb Oetama (Alm) pendiri Kompas, pernah gambarkan pers semacam ini. Ibarat memasukkan kaki ke sungai, lalu terantuk batu. Kita bisa bersikap, tendang batu itu. Tetapi, kalau batu itu besar, mungkin kaki saya yang patah. Tetapi, kita bisa juga mengambil sikap: ’Oh, ada batu! Ah, saya mundur.’ Bukan mundur-mundur terus, tetapi belok lewat yang tidak ada batu. Ini melelahkan karena kita kadang tidak sabar. Juga kadang ada konflik karena kita beranggapan bahwa yang menjadi pertaruhan itu besar.” Begitulah corak ini bertahan.
Pers Era Baru, saya kira tetap menjalankan “Khitah” semacam itu. Pers yang kritis pada beragam kebijakan (pemerintah), pers yang kritis pada kekuasaan. Pers bukan humas yang “hadist”nya. “Katakan yang Baik atau Diam”. Pers yang “Sejati” harus bisa berteriak lantang “Katakan yang Benar Walau Pahit”.
Saya kira. Tak peduli bentuknya media cetak atau media online, pers tetap kudu memainkan peran semacam itu. Pers adalah pers, dia bukan humas (pemerintah). Ia semestinya harus hadir ketika ada kebijakan yang di luar nalar akal sehat, ia selalu hadir ketika ada ketidakadilan di depan mata. Tentu, ini sebuah tugas berat di tengah industri media yang kembang kempis. Apa boleh buat. Kalau tidak kuat lebih baik memang mundur teratur saja.
Wartawan Senior Media Indonesia, Usman Kasong pernah berujar begini ”Menerapkan jurnalisme berkualitas di ekosistem bisnis media yang tidak sehat bak menanam padi di padang pasir”. Tentu saja, ini menjadi renungan “berat” bagi mereka yang sampai saat ini masih bersikukuh menjadi atau berprofesi sebagai wartawan.
Jurnalis yang bekerja sendiri, merawat media kecil miliknya, tentu rawan “Stres” ketika dituntut penuh jalankan profesionalitas kewartawanan di tengah gaji yang tidak jelas, di tengah bisnis media yang tidak sehat. Kabar baiknya, kini terbuka lebar organisasi-organisi perkumpulan wartawan (jurnalis) yang bisa saling menguatkan.
Lewat organisasi ini, menjadikan jurnalis lebih bisa berkembang, menjalankan profesinya dengan baik, bisa menyiasati beragam keterbatasan. Konon, industri pers kita tak lagi sempit sebatas “Produsen Berita”. Tapi, sudah mulai berkembang menjadi industri penerbitan bahkan EO. Kabar baik yang bisa dijalankan untuk memperluas “Lingkup Bisnis” industri media. Alih-alih bekerja sendiri dengan tim kecil, saya kira, demi tetap terus menjaga ruh profesionalitas kewartawanan, bergabung dan mendirikan organisasi kewartawanan (jurnalis) adalah harga mati. Demi kelangsungan hidup wartawan itu sendiri.
Dengan jalan demikian, saya kira, kita masih bakal bisa menyaksikan bagaimana optimisme “Pers Era Baru” ini tetap bisa bekerja. Ia tidak sekadar “Produsen Berita”. Ia, kemudian menjadi luwes bergerak dengan beragam “Model Bisnis” yang dijalankan, termasuk akrab dengan perkembangan terbaru chanel kekinian semacam “Podcast”. Sampai di sini, saya yakin dan masih cukup optimistis. Media cetak boleh tumbang, tapi jurnalisme (pers) belum mati. []
Yons Achmad. Praktisi komunikasi. Pendiri Brandstory.id.

Comment