Setiap peristiwa yang terjadi di negeri ini, tidak berdiri sendiri. Setiap orang mungkin bisa saja menilai, menghakimi kasus per kasus sebuah peristiwa itu. Tapi, kalau kita teliti secara saksama. Dalam kurun waktu yang lumayan lama, maka kita akan menemukan pola di dalamnya. Sehingga, kita akan bisa menilai dengan lebih obyektif, dengan lebih jernih.
Pekerjaan demikian, bisa dilakukan seorang peneliti dengan metodologi yang ketat.
Tapi, bolehlah dalam konteks yang lebih luwes dan rileks, pekerjaan demikian dilakukan oleh seorang dokumentator. Ia yang merekam setiap peristiwa (melalui teks, audio maupun video).
Tentu, kita tak pernah bisa “merekam” semuanya.
Kami sendiri, kini sedang mencoba “merekam jejak” komunikasi pejabat dan tokoh publik secara lebih serius. Bagaimana mereka mempraktikkan “komunikasi publik” di ruang yang terbatas, sampai merangsek masuk ke ranah media mainstream dan digital (media sosial). pemandangan sepintas, ada yang spontan, blak-blakan, ada yang “by design”, ada yang blunder disusul klarifikasi, ada yang mencoba meraih dukungan publik dengan komunikasi empatik dan seterusnya.
Sementara itu, komunikasi publik sendiri tentu bukan sekadar “menyampaikan pesan”, tapi sebuah upaya membangun kepercayaan (trust building). Semisal, apa yang disampaikan pejabat publik sejatinya menjadi acuan masyarakat untuk memahami kebijakan publik. Ia, juga menjadi semacam upaya menjaga legitimasi kebijakan publik di tengah derasnya arus informasi. Serampangan dalam penyampaian, kerap menjadi kontroversi yang seharusnya tak perlu terjadi.
Dalam konsteks komunikasi publik, kita bisa membacanya setidaknya dalam dua hal. Pertama, terkait dengan kecakapan (ability) komunikator publik dalam praktik komunikasi. Bagaimana cara mengungkapkan pesan (encoding) dan juga cara menguraikan makna pesan (decoding) secara verbal maupun non verbal dengan tepat sehingga tidak menimbulkan distorsi dalam interaksi sosial .
Kedua, terkait dengan kualitas (quality) pesan komunikasi di dalamnya. Kualitas komunikasi yang dimaksud selait terkait dengan substansi, tapi juga berkaitan dengan kemampuan komunikator dalam menjalin dan memelihara hubungan yang baik dengan pihak yang menjadi sasaran komunikasi, sehingga menentukan baik buruknya komunikasi yang dilakukan seseorang dengan pihak lain (individu, kelompok, atau massa).
Dalam pengamat singkat saja, kita menjadi paham bagaimana potret-potret komunikasi publik dijalankan, khususnya oleh para pejabat publik di tanah air. Kami merasa, penting untuk melakukan kerja-kerja dokumentasi komunikasi publik (pejabat) semacam ini ini. Sebagai upaya merawat ingatan dan juga bisa memperoleh gambaran yang komprehensif bagaimana praktik “Siasat Komunikasi Publik Pejabat” dilakukan. Tentu, disertai potret bagaimana publik menilai, menafsirkan fenomena itu. Tentu, ini sebuah kerja-kerja rutin yang cukup menantang. []
Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory.id.
Foto: Ilustrasi

Comment