Dimediasi Sufmi Dasco Ahmad, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memutuskan mencabut laporan dugaan penghinaan profesi wartawan terhadap pengacara Hotman Paris Hutapea. Langkah damai ini diambil setelah pertemuan yang mempertemukan kedua pihak berlangsung dalam suasana silaturahmi pada Selasa (28/7/2026), sekaligus mengakhiri polemik yang sempat menyita perhatian publik.
Dengan adanya kesepakatan tersebut, PWI memastikan penyelesaian dilakukan melalui jalur damai sehingga laporan yang sebelumnya telah dilayangkan tidak lagi dilanjutkan. Perdamaian itu juga dipublikasikan melalui media sosial milik Sufmi Dasco Ahmad.
Dalam unggahan tersebut terlihat Dasco berdiri di tengah, sementara Hotman Paris dan Akhmad Munir berada di sisi kanan dan kiri sambil saling berjabat tangan sebagai simbol berakhirnya perselisihan.
Melalui akun media sosialnya, Dasco menuliskan pesan singkat yang menegaskan semangat kebersamaan. “Persatuan Indonesia. Silaturahmi bersama Ketua Umum PWI Akhmad Munir dan Dr. Hotman Paris SH M.Hum hari ini.” tulis keterangan dalam akun FB Dasco, dikutip Selasa (28/7/2026).
Seperti biasa, komentar beragam muncul dari netizen, misalnya “itu pasti pakai anggaran,” “dagelan”, “Caiiir..caiiir,” ‘damai’ itu indah,” “angkanya sesuai,” “sarat kejepit langsung sembuh.” Saya tentu anggap komentar itu sebagai semacam “hiburan netizen”. Kembang-kembang media sosial.
Dibalik itu, saya tentu saja cukup tertarik bagaimana “Komunikasi Mediasi” dimainkan oleh sosok politikus dengan panggilan Dasco ini. Sosok yang memang dikenal luas dikalangan aktivis. Banyak dari mereka, para aktivis yang mau masuk politik kurang afdhol kalau belum “sowan” dan mendapat restu Dasco.
Terlepas dari itu, kali ini, kita telisik, kita apresiasi, “angkat topi” dengan peran mediasi ala Dasco yang berhasil mendamaikan kedua belah pihak yang sedang bertikai. Kita akan coba kaitkan juga bagaimana mediasi dan peran komunikasi publik ini, kita bedah sebagai studi kasus komunikasi publik yang menarik.
Kita paham, keberhasilan seorang mediator bukan ditentukan oleh jabatan yang dimiliki, melainkan oleh tingkat kepercayaan (trust) yang diberikan para pihak yang berselisih. Seorang mediator tidak memiliki kewenangan memaksa. Ia hanya memiliki modal sosial, kredibilitas, dan kemampuan membangun komunikasi sehingga pihak-pihak yang bertikai bersedia duduk dalam satu meja.
Itulah yang tampaknya dimainkan Dasco dalam kasus ini. Ia tidak tampil sebagai hakim yang menentukan siapa benar dan siapa salah. Ia juga tidak mengambil alih persoalan hukum yang sedang berjalan. Sebaliknya, ia membuka ruang dialog. Dalam kasus ini, Dasco mampu mengubah situasi yang sebelumnya dipenuhi saling tuding menjadi ruang percakapan. Hasil akhirnya bukan sekadar pencabutan laporan, tetapi lahirnya simbol perdamaian yang ditunjukkan melalui jabat tangan kedua belah pihak. Simbol itu penting karena dalam komunikasi publik, masyarakat tidak hanya menilai hasil, tetapi juga melihat proses penyelesaiannya.
Mengapa seorang politikus bisa berhasil menjadi mediator?
Jawabannya terletak pada jaringan kepercayaan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Politik, bila dijalankan secara sehat, sebenarnya merupakan seni membangun relasi. Relasi inilah yang kemudian menjadi modal komunikasi ketika dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik.
Dalam konsep social capital, jejaring sosial, kepercayaan, dan norma kerja sama merupakan aset yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan bersama. Seorang politikus yang memiliki akses kepada banyak kelompok akan lebih mudah mempertemukan pihak-pihak yang selama ini sulit berkomunikasi secara langsung.
Dasco tampaknya memanfaatkan modal tersebut. Ia diterima oleh kedua belah pihak sehingga masing-masing merasa aman untuk hadir dalam ruang mediasi. Kepercayaan seperti ini tidak dibangun dalam semalam. Ia merupakan akumulasi reputasi, relasi, dan kemampuan menjaga komunikasi lintas kelompok selama bertahun-tahun.
Bagaimana kalau kita kaitkan dengan komunikasi publik? Peristiwa ini juga memberikan pelajaran bahwa komunikasi seorang pejabat atau elite politik tidak selalu harus diwujudkan melalui konferensi pers, pidato, atau pernyataan di media. Ada bentuk komunikasi yang jauh lebih berdampak, yaitu komunikasi yang menghasilkan solusi.
Komunikasi publik sejatinya bukan kompetisi mencari perhatian publik, melainkan upaya menciptakan manfaat publik. Ketika seorang tokoh mampu menyelesaikan konflik tanpa memperkeruh keadaan, sesungguhnya ia sedang menjalankan fungsi komunikasi publik yang substantif.
Publik kemudian memperoleh pesan bahwa dialog masih menjadi jalan terbaik dibanding mempertajam permusuhan. Apa boleh buat, kali ini, kita perlu apresiasi dan angkat topi atas peran mediasi ala Dasco ini.
(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory Indonesia)

Comment