Di tengah menguatnya isu reshuffle Kabinet Merah Putih, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman justru menyiapkan langkah besar di internal Kementerian Pertanian (Kementan). Alih-alih menanggapi spekulasi mengenai posisinya di kabinet, Amran memastikan fokusnya saat ini adalah membersihkan birokrasi dengan mengevaluasi hingga 20 pejabat eselon I.
Belakangan ini, nama Amran belakangan ikut disebut dalam isu perombakan kabinet Presiden Prabowo Subianto. Menanggapi kabar tersebut, ia mengaku tidak mempermasalahkannya karena pergantian menteri sepenuhnya merupakan hak prerogatif presiden.
Di tengah isu reshuffle tersebut, dimedia dirinya hanya berkomentar singkat.
“Saya ini sudah umur 57. Sudah tua. Mereka lanjutkan nanti. Kita gantian,” kata Amran saat bertemu organisasi pemuda, Senin (3/8/2026). Seperti dikutip dari Tribunews. Lebih lanjut dikatakan, Amran mengatakan dirinya memilih memanfaatkan sisa masa tugas untuk menuntaskan berbagai pekerjaan, terutama memerangi mafia pangan dan memperbaiki tata kelola di Kementerian Pertanian.
Kinerja dan gaya komunikasi Menteri Amran memang kerap mendapatkan sorotan. Hanya, ada satu catatan menarik. Amran pernah meraih tingkat kepuasan publik tertinggi sebesar 84,9% berdasarkan survei nasional Indikator Politik Indonesia pada Oktober 2025. Kinerja beliau dinilai menonjol dalam memperkuat cadangan pangan, mendorong percepatan swasembada pangan, serta membongkar praktik penyimpangan tata niaga beras.
Kontroversi yang pernah terjadi, Menteri Amran pernah menggugat Tempo sebesar Rp200 miliar terkait sebuah materi pemberitaan. Gugatan itu tentu merupakan hak setiap warga negara. Namun, ketika langkah tersebut diambil oleh seorang pejabat tinggi negara terhadap sebuah media, publik juga berhak mempertanyakan apakah pendekatan konfrontatif memang menjadi pilihan yang paling bijaksana. Kritik seharusnya dijawab dengan penjelasan yang meyakinkan, bukan selalu dengan langkah hukum yang justru memunculkan kontroversi baru.
Terlepas dari ini, saya mencatat, ada gaya komunikasi yang cukup menonjol dari Menteri Amran. Salah satunya adalah gaya “Turun Tangan”, beragam aktivitas yang langsung turun tangan menyelsaikan beragam persoalan di lapangan. Ia juga rutin dan berani berdiskusi dengan mahasiswa di berbagai kampus. Membuktikan Menteri ini siap dan punya nyali untuk berdebat dan berdiskusi.
Saya kira, dalam perspektif komunikasi publik hal ini menarik.
Dalam perspektif komunikasi publik, gaya “turun tangan” Amran menarik karena menggeser pengertian komunikasi dari sekadar aktivitas berbicara menjadi komunikasi berbasis tindakan. Seorang pejabat publik memang membutuhkan kemampuan menyampaikan pesan, tetapi publik tidak hanya menilai apa yang dikatakan, melainkan juga apa yang dilakukan
Gaya “turun tangan” juga menghasilkan apa yang bisa disebut sebagai komunikasi dengan bukti. Dalam komunikasi pemerintahan, persoalan kredibilitas sering muncul ketika pernyataan pejabat terlalu jauh dari pengalaman masyarakat. Amran tampaknya membangun pesan yang lebih sederhana di mana persoalan pertanian tidak cukup dibicarakan dari balik meja, tetapi harus dilihat, disentuh, dan diselesaikan di lapangan. Karena itu, aktivitas kerja dapat sekaligus menjadi narasi kepemimpinan.
Tidak mengherankan seperti yang sudah saya singgung di atas bila survei Indikator Politik Indonesia pada Oktober 2025 lalu menempatkan tingkat kepuasan terhadap kinerja Amran sebesar 84,9 persen, tertinggi di antara pejabat tinggi negara yang diukur dalam survei tersebut. Angka itu tentu tidak otomatis membuktikan bahwa gaya komunikasi “turun tangan” menjadi satu-satunya penyebab kepuasan publik, tetapi setidaknya menunjukkan adanya hubungan menarik antara persepsi atas kinerja dan penerimaan publik terhadap seorang pejabat.
Hal menarik lainnya adalah keberanian Amran masuk ke ruang dialog dengan mahasiswa. Pada kuliah umum di Universitas Sumatera Utara pada Juli 2026, misalnya, ketika muncul interupsi dari mahasiswa, Amran membuka ruang dialog dan merespons dengan data serta argumentasi. Sebelumnya, dalam forum bersama BEM seluruh Indonesia pada Mei 2026, ia juga menerima laporan mahasiswa mengenai persoalan sektor pertanian dan menyatakan akan menindaklanjutinya.
Dalam teori komunikasi dialogis, dialog bukan sekadar kesempatan bagi komunikator untuk menyampaikan pesan, tetapi menyediakan ruang bagi publik untuk menyampaikan pandangan dan bagi organisasi untuk mendengarkan. Karena itu, keberanian bertemu kelompok yang kritis sesungguhnya merupakan modal komunikasi publik yang penting. Pejabat yang hanya mau bertemu dengan publik yang sudah setuju dengannya akan terjebak dalam ruang gema; sebaliknya, pejabat yang bersedia menerima pertanyaan dan kritik membuka kemungkinan terjadinya komunikasi yang lebih substantif.
Dari sini, saya melihat, gaya “turun tangan” Amran dapat dibaca sebagai bentuk komunikasi kepemimpinan yang performative yaitu kepemimpinan yang dikomunikasikan melalui kehadiran, keputusan, respons, dan tindakan nyata. Ini menarik karena dalam era ketika pejabat mudah memproduksi pernyataan melalui media sosial dan konferensi pers, tindakan langsung justru dapat menjadi pembeda.
Akan tetapi, “turun tangan” sebaiknya tidak berhenti sebagai pertunjukan kehadiran seorang menteri. Ukuran keberhasilannya adalah apakah kehadiran tersebut menghasilkan penyelesaian masalah, memperbaiki pelayanan, mendengarkan publik, dan membangun kepercayaan. Di sinilah relevansinya di mana bukan sekadar membuat publik mendengar pemerintah, tetapi membuat pemerintah juga bersedia mendengar publik. Dengan demikian, kekuatan komunikasi Amran bukan semata-mata pada seberapa banyak ia berbicara, tetapi pada seberapa jauh publik dapat melihat bahwa apa yang dikatakannya berlanjut menjadi apa yang dikerjakannya. Begitu kira-kira tafsir sederhananya.
(Yons Achmad. Storyteller. Pengamat Komunikasi. Pendiri Brandstory.id)

Comment