Sayembara menunjukkan ijazah SMA atau sederajat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang digagas pakar hukum tata negara Denny Indrayana menarik perhatian publik. Bermula dari hadiah Rp100 juta, nilainya terus bertambah hingga menembus angka lebih dari Rp1 miliar karena adanya kontribusi dari berbagai pihak.
Denny menyebut sayembara ini sebagai upaya mendorong transparansi sekaligus menantang pihak Gibran membuktikan keaslian ijazahnya. Di sisi lain, pendukung Gibran menilai persoalan tersebut sudah selesai secara politik dan sayembara justru berpotensi memperpanjang kegaduhan.
Dalam perspektif komunikasi publik dan storytelling, saya melihat ada tiga tafsir menarik dari fenomena ini.
Pertama, apresiasi terhadap niat transparansi. Saya tentu mengapresiasi setiap upaya mendorong transparansi pejabat publik. Dalam demokrasi, publik memang memiliki hak untuk mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pejabat publik, termasuk persoalan dokumen yang berkaitan dengan persyaratan jabatan. Karena itu, semangat untuk membuka ruang pembuktian patut diapresiasi. Namun, transparansi sebenarnya agak kadaluarsa. Idealnya tetap ditempatkan dalam mekanisme yang tepat, saat dulu dalam proses menjabat, agar tidak berubah menjadi sekadar perang opini dan spekulasi di ruang publik. Dan, ini yang saat ini terjadi.
Kedua, berpotensi menjadi ajang pansos sosial. Saya melihat sayembara ini juga bisa ditafsirkan sebagai panggung komunikasi bagi penggagasnya. Bukan berarti niat awalnya tidak serius, tetapi sebuah isu bisa saja memiliki efek komunikasi yang berbeda dari niat komunikatornya. Dengan hadiah yang fantastis, perhatian media dan keterlibatan publik yang semakin besar, isu ijazah kemudian berubah menjadi tontonan.
Ada konflik, ada tantangan, ada hadiah, ada pihak yang ditantang, dan ada publik yang menjadi penonton. Dalam perspektif storytelling, ini adalah formula cerita yang sangat menarik. Karena itu, saya melihat ada kemungkinan sayembara ini juga menjadi bentuk pansos sosial, membangun perhatian dan eksistensi melalui isu yang sedang ramai diperbincangkan publik. Denny, rupanya masih haus akan itu.
Ketiga, justru bisa menguntungkan Gibran. Ini yang menurut saya paling menarik. Gibran berada pada posisi sebagai pihak yang terus dibicarakan, tetapi tidak harus terus-menerus masuk ke dalam arena perdebatan. Denny berbicara, para pendukung membalas, media memberitakan, publik berdebat, sementara Gibran bisa tetap diam. Saya melihat pola ini sebagai strategi “jalan senyap”: tetap bergerak dan bekerja tanpa perlu membuka seluruh langkah kepada publik maupun lawan politik.
Dalam komunikasi politik, diam tidak selalu berarti kalah. Diam bisa menjadi strategi ketika pihak lain justru sibuk membangun narasi tentang diri kita. Tentu strategi ini memiliki risiko jika dilakukan terlalu lama, tetapi dalam kasus sayembara ini, saya melihat paradoksnya: semakin ramai pihak lain membicarakan Gibran, semakin besar pula posisi Gibran sebagai pusat perhatian tanpa harus menjadi orang yang paling banyak berbicara.
Kini, saya melihat, sayembara ini bukan hanya soal ijazah. Ia juga merupakan pertarungan narasi. Siapa yang paling mampu mengendalikan cerita, dialah yang berpotensi memenangkan persepsi publik. Dan untuk sementara, menariknya, Gibran justru tidak perlu banyak bicara untuk tetap menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut.
(Yons Achmad. Storyteller. Pengamat Komunikasi. Pendiri Brandstory.id)

Comment