Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya dicopot dari jabatan Menteri Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 14 September 2026. Pergantian ini segera melahirkan berbagai analisis. Ada yang mengaitkannya dengan polemik setoran Rp120 triliun dari Danantara ke APBN, ada pula yang membaca pergantian ini sebagai kebutuhan Presiden terhadap figur Menteri Keuangan yang lebih sejalan dengan arah kebijakan fiskal pemerintah.
Namun, di luar soal angka, kebijakan dan politik kekuasaan, ada satu aspek yang menarik untuk dilihat yaitu problemkomunikasi. Sebab, seorang Menteri Keuangan bukan hanya pengelola APBN, tetapi juga komunikator publik yang setiap pernyataannya dapat memengaruhi persepsi pasar, birokrasi, dan publik. Purbaya sendiri dikenal memiliki gaya komunikasi yang terbuka, spontan dan blak-blakan.
Dalam perspektif komunikasi public, di sinilah problemnya. Bagaimana komunikasi seorang pimpinan dengan jajaran di bawahnya dibangun. Kementerian Keuangan adalah organisasi birokrasi yang sangat besar, dengan para dirjen dan pejabat senior yang memiliki kewenangan, pengalaman serta tanggung jawab masing-masing. Karena itu, bila terjadi perbedaan pandangan antara menteri dengan pejabat di bawahnya, persoalannya bukan siapa benar, tetapi bagaimana perbedaan itu dikomunikasikan dan diselesaikan secara internal. Reuters melaporkan bahwa Purbaya mengakui sebagian alasan ia memperkirakan dirinya bisa diganti berkaitan dengan ketidaksepahaman dengan sejumlah pejabat. Namun, detail hubungan internal tersebut tidak seluruhnya terbuka kepada publik.
Di sinilah gaya komunikasi seorang pemimpin menjadi penting. Gaya blak-blakan bisa menjadi kekuatan karena membuat seorang pejabat terlihat transparan dan tidak berjarak dengan publik. Tetapi, gaya yang sama dapat menjadi problem apabila komunikasi publik tidak terlebih dahulu berjalan seirama dengan komunikasi internal.
Problem berikutnya adalah apa yang bisa disebut sebagai overconfidence communication, yakni gaya komunikasi yang terlalu percaya diri dalam menyampaikan sebuah kebijakan atau proyeksi. Dalam politik dan pemerintahan, rasa percaya diri tentu dibutuhkan. Tetapi percaya diri harus dibarengi dengan kehati-hatian dalam memilih kata. Contohnya terlihat ketika Purbaya menyampaikan soal rencana setoran sekitar Rp120 triliun dari Danantara ke APBN. Pernyataan itu kemudian menjadi bagian dari perdebatan publik mengenai fiskal, meskipun Purbaya juga menjelaskan bahwa dana tersebut merupakan keuntungan Danantara dan masuknya ke kas negara berkaitan dengan keputusan serta mekanisme pemerintah.
Komunikasi publik seorang Menteri Keuangan bahkan lebih sensitif dibanding menteri lainnya karena menyangkut ekspektasi ekonomi. Satu kalimat dapat diterjemahkan menjadi sinyal kebijakan oleh pelaku pasar, media, dunia usaha maupun masyarakat. Karena itu, seorang Menkeu idealnya bukan hanya mampu menjelaskan apa yang diyakininya benar, tetapi juga mampu membaca konsekuensi komunikasi dari setiap pernyataan. Dalam konteks ini, gaya Purbaya yang lugas dan berani memang membuatnya mudah dikenali publik. Tetapi, popularitas komunikasi tidak selalu identik dengan efektivitas komunikasi pemerintahan. Seorang menteri membutuhkan keseimbangan antara personal voice dan institutional voice: boleh memiliki karakter pribadi yang kuat, tetapi tetap harus menjaga agar yang terdengar adalah suara institusi.
Alasan resmi pemecatan Purbaya memang tidak dijelaskan secara spesifik, sehingga agak riskan jika menyimpulkan bahwa problem komunikasi merupakan penyebab pencopotan. Tetapi kasus ini memberikan pelajaran penting: dalam pemerintahan, komunikasi internal dan komunikasi publik adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Pemimpin yang terlalu banyak bicara tanpa koordinasi dapat menimbulkan problem internal; sementara pemimpin yang terlalu percaya diri di ruang publik dapat menciptakan ekspektasi yang sulit dikendalikan. Hasil akhirnya, faktanya Purbaya kini sudah dipecat. Saya hanya sedikit ingin mencatat bagaimana problem komunikasi ini menjadi bagian yang menyertainya. []
(Yons Achmad. Pengamat Komunikasi. Pendiri Brandstory.id)

Comment