Brandstory Opinion
Home » Article & News » OTW Jadi Kolumnis

OTW Jadi Kolumnis

Menjadi kolumnis, bagi saya, bukan sekadar soal menulis opini lalu selesai ketika tulisan dimuat. Menjadi kolumnis adalah sebuah perjalanan, on the way. Ada proses belajar, membaca, menulis, menyapa pembaca, menemukan gagasan, lalu mengolah gagasan itu menjadi sesuatu yang lebih panjang umur.

Saya mengalami sendiri perjalanan itu.

Jauh sebelum istilah content creator begitu populer, saya sudah menikmati dunia menulis melalui blog. Dari sana lahir bebeerapa buku buku, yang kemudian saya kemas ulang judulnya. Diantaranya, OTW Manusia Tengah Malaikat, sebuah kumpulan tulisan inspiratif yang banyak dipengaruhi gaya Chicken Soup for the Soul. Tulisan-tulisan pendek, kisah manusia, pengalaman sehari-hari, tetapi berusaha menemukan makna di baliknya.

Setelah itu, saya mencoba menyulap pengalaman menulis menjadi tema yang berbeda. Lahirlah OTW Penulisan Kreatif, yang berisi teori, pendekatan, dan teknik menulis kreatif. Kemudian OTW Literasi Digital, berisi kolom-kolom tentang dunia digital dengan mengambil kasus-kasus yang sedang hangat sebagai bahan refleksi.

Yang terakhir, saya mengumpulkan tulisan tentang personal branding menjadi OTW Personal Branding. Kali ini jumlahnya cukup banyak: sekitar 45 kolom, saya satukan menjadi sebuah buku.

Dari perjalanan itu saya menemukan satu hal sederhana: kolom ternyata tidak harus berhenti sebagai kolom. Ia bisa disulap menjadi buku.

Di sinilah saya kemudian mengenal konsep sederhana: “Dari Kolom Menjadi Buku.” Lantas, kenapa kolom, kenapa perlu menyulapnya menajdi buku?

Pertama, menjaga konsistensi penulis

Menulis kolom membuat seorang penulis terus bergerak. Ada target tulisan, ada gagasan yang harus dituangkan, ada pembaca yang harus disapa. Dengan begitu, karier kepenulisan tidak berhenti hanya karena satu buku sudah selesai.

Menulis sama halnya olahraga. Kalau lama tidak digunakan, otot menulis bisa kaku.

Ada pepatah “Keminggris” yang relevan: “Practice makes perfect.” Praktik yang terus-menerus akan membuat kemampuan semakin terasah.

Bagi saya, menulis kolom adalah salah satu cara untuk terus berlatih sekaligus menjaga eksistensi sebagai penulis.

Kedua, kolom bisa menjadi produk

Ini bagian yang sering terlupakan.

Tulisan bukan hanya ekspresi gagasan. Kalau dikumpulkan dan dikemas dengan baik, ia bisa menjadi produk.

Kolom-kolom yang sebelumnya tercecer di blog, media, atau platform digital dapat dikurasi, diedit, dikelompokkan berdasarkan tema, lalu diterbitkan menjadi buku. Bisa dalam bentuk buku cetak, bisa pula dalam bentuk e-book.

Tentu, soal apakah bukunya laku atau tidak adalah cerita lain. Tetapi setidaknya, seorang penulis memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan kepada pembaca.

Seperti pepatah “Keminggris” lain, “Don’t put all your eggs in one basket.” Jangan menggantungkan seluruh penghasilan pada satu sumber saja.

Bagi penulis, satu gagasan bisa memiliki banyak bentuk: kolom, buku, e-book, materi presentasi, konten digital, bahkan pelatihan.

Ketiga, buku bisa dikemas jadi pelatihan

Ini yang menarik.

Saya mengalami sendiri bagaimana buku ternyata bisa menjadi pintu menuju pekerjaan lain. OTW Penulisan Kreatif kemudian bisa menjadi basis materi pelatihan penulisan kreatif. OTW Literasi Digital bisa dikembangkan menjadi materi pelatihan literasi digital. Begitu pula OTW Personal Branding bisa menjadi bahan pelatihan personal branding.

Artinya, satu karya bisa memiliki umur yang lebih panjang.

Buku tidak berhenti sebagai buku. Ia bisa menjadi materi pelatihan. Dari pelatihan kemudian muncul kesempatan menjadi pembicara atau narasumber.

Di titik ini, satu karya memiliki beberapa kemungkinan nilai ekonomi: buku menghasilkan income, pelatihan menghasilkan income, dan aktivitas sebagai narasumber juga menghasilkan income.

Ini bukan sekadar soal mengejar uang. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana gagasan yang kita tulis bisa terus hidup dan memberikan manfaat dalam bentuk yang berbeda.

Saya kira, di era sekarang, kekuatan itu bahkan bisa diperluas. “Pena” bukan hanya untuk menulis. Ia bisa menjadi jalan membangun reputasi, menghasilkan karya, membuka ruang berbicara, menciptakan produk, dan memperluas jaringan.

Maka, kalau sekarang punya banyak kolom yang selama ini hanya tersimpan di blog, media sosial, atau media online, jangan buru-buru menganggapnya sebagai tulisan yang sudah selesai.

Mungkin itu sebenarnya adalah buku yang belum disulap.

Kumpulkan. Baca kembali. Kurasi. Kelompokkan. Edit. Beri tema. Lalu terbitkan.

Sebab dalam perjalanan menjadi kolumnis, saya belajar satu hal: satu tulisan mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa jam untuk dibuat, tetapi jika dikumpulkan dengan konsisten, ia bisa menjadi karya yang bertahan bertahun-tahun.

OTW Jadi Kolumnis intinya kemudian bukan sekadar tentang bagaimana rajin menulis kolom. Ini tentang bagaimana mengubah tulisan menjadi aset intelektual.

Dari kolom menjadi buku.

Dari buku menjadi pelatihan.

Dari pelatihan menjadi ruang berbagi.

Dan dari semua itu, seorang penulis bisa terus berjalan.

Because the journey of a writer never really ends.

Salam

Yons Achmad
Kolumnis. Storyteller, Pendiri Brandstory.id

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *