Brandstory Opinion
Home » Article & News » Gaya Komunikasi Dasco Respon Temuan SMRC

Gaya Komunikasi Dasco Respon Temuan SMRC

Saiful Munjani Research Consulting (SMRC) merilis hasil survei terbaru periode 5–19 Juli 2026 yang menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo berada di angka 51,1 persen. Angka ini mengalami penurunan dari temuan survei pada November 2025 yang sempat menyentuh 81,2 persen.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa penurunan kepuasan publik tersebut berbanding lurus dengan perubahan persepsi masyarakat terhadap tiga sektor utam. Di mana Penurunan kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menanggapi hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, hasil survei merupakan potret opini publik yang bersifat dinamis dan dapat berubah seiring perkembangan kondisi di masyarakat.

Menanggapi hasil survei itu, Qodari menegaskan pemerintah menghormati setiap hasil riset sebagai bahan evaluasi. Namun, ia mengingatkan opini publik selalu berubah mengikuti berbagai dinamika yang terjadi. Kali ini, sebagai mantan “Orang Survei” Qodari tak terlalu menyangkal temuan ini.

Sementara itu, gaya yang lumayan elegan dilakukan oleh Dasco.

Wakil Ketua DPRSufmi Dasco Ahmad merespons soal hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terkait tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto yang menunjukkan tren menurun. Dasco menyebut pihaknya akan mempelajari hasil survei tersebut.

Dasco mengatakan, hasil jajak pendapat lembaga survei tersebut tentunya menjadi bahan kajian yang akan dipelajari.”Kami juga sedang mempelajari, juga kami kaji, dan tentunya hasil survei juga itu adalah berupa masukan-masukan yang nantinya kita akan komparasikan,” kata Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/7/2026) (Seperti dikutip dari Inewsid).

Ketua Harian DPP Partai Gerindra itu berharap pemerintah dapat menjadikan hasil survei tersebut sebagai bahan perbaikan untuk menjalankan tata kelola pemerintahan. Gaya komunikasi ini mungkin terkesan normative, tapi tetap lumayan menarik kalau kita baca dalam perspektif komunikasi publik.

Respons Sufmi Dasco Ahmad menarik karena tidak menggunakan pendekatan defensif ataupun konfrontatif terhadap hasil survei. Ia tidak memilih untuk mendeligitimasi lembaga survei, tidak pula menyebut hasil survei sebagai pesanan politik atau tidak ilmiah, sebagaimana sering terjadi dalam komunikasi elite politik ketika menghadapi data yang tidak menguntungkan.

Sebaliknya, Dasco memilih diksi yang tenang: “dipelajari”, “dikaji”, “dikomparasikan”, dan “menjadi masukan”. Pilihan bahasa ini memperlihatkan bahwa kritik publik diterima sebagai bagian dari proses demokrasi, bukan sebagai ancaman politik. Dalam komunikasi publik, sikap seperti ini memperkuat citra seorang pemimpin yang percaya diri karena tidak merasa perlu menyerang sumber kritik.

Ketika Dasco menyebut hasil survei akan dipelajari dan dijadikan bahan evaluasi, ia sedang mengirimkan sinyal bahwa pemerintah tidak menutup telinga terhadap opini publik. Pesan tersebut jauh lebih menenangkan dibandingkan respons yang emosional atau penuh pembelaan, karena publik merasa suaranya tetap memiliki nilai dalam proses pengambilan keputusan.

Di sisi lain, gaya komunikasi Dasco menunjukkan kemampuan mengelola persepsi publik. Dalam kajian komunikasi politik, sebuah survei bukan hanya kumpulan angka, tetapi juga narasi yang dapat membentuk persepsi masyarakat. Jika elite politik merespons secara berlebihan, polemik justru akan memperpanjang umur pemberitaan negatif.

Sebaliknya, ketika respons diberikan secara tenang dan proporsional, perhatian publik bergeser dari konflik menuju substansi. Dasco tampaknya memahami bahwa membesarkan perdebatan mengenai metodologi survei hanya akan memperkuat eksposur terhadap penurunan kepuasan publik.

Karena itu, ia memilih meredam isu dengan bahasa yang moderat dan rasional.

Cara berkomunikasi ini juga memperlihatkan kedewasaan politik. Di mana, survei merupakan salah satu instrumen untuk membaca aspirasi masyarakat, meskipun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pemerintahan. Elite politik yang dewasa akan memandang survei sebagai “alarm dini”, bukan sebagai “vonis akhir”.

Pernyataan Dasco yang berharap hasil survei dijadikan bahan perbaikan menunjukkan orientasi pada solusi, bukan sekadar pembelaan citra. Ini merupakan praktik komunikasi publik yang lebih produktif karena mengarahkan perhatian pada langkah korektif dibandingkan saling menyalahkan. Kali ini, kita kembali apresiasi gaya komunikasi semacam ini. []

(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory Indonesia)

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *