Brandstory Opinion
Home » Article & News » Stop Iklan Rokok di Media Demi Penyiaran Ramah Anak

Stop Iklan Rokok di Media Demi Penyiaran Ramah Anak

Ada sesuatu yang menurut saya cukup mengkhawatirkan dalam perkembangan industri media hari ini. Di satu sisi, publik semakin kuat mendorong agar media berhenti menayangkan iklan rokok. Di sisi lain, perusahaan rokok justru semakin agresif masuk dan membeli perusahaan-perusahaan media. Di sinilah saya melihat ada persoalan yang tidak sederhana. Ketika media menjadi salah satu ruang penting untuk mengawal kepentingan publik, bagaimana mungkin kita berharap media secara tegas menolak iklan rokok jika di belakangnya terdapat kepentingan bisnis industri rokok?

Kini pembahasan tentang pelarangan total iklan, promosi, dan sponsorship produk tembakau (IPSR) semakin mengemuka. Kebijakan ini tentu bukan semata-mata persoalan kesehatan atau pengendalian tembakau. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu bagaimana negara memenuhi hak anak dan melindungi mereka dari berbagai pengaruh komersial yang berpotensi merugikan kepentingan terbaik anak.

Kita tahu, anak-anak hidup di tengah lingkungan yang penuh dengan pesan komersial. Paparan iklan, promosi, maupun sponsorship produk tembakau dapat hadir dalam berbagai bentuk dan ruang. Bukan hanya melalui iklan yang secara terang-terangan menawarkan produk rokok, tetapi juga melalui pencitraan, kegiatan sponsorship, aktivitas olahraga, musik, hingga berbagai bentuk komunikasi yang secara tidak langsung membangun asosiasi positif terhadap produk tembakau. Paparan semacam ini berpotensi memengaruhi pengetahuan, sikap, bahkan perilaku anak terhadap rokok.

Karena itu, media sesungguhnya memiliki posisi yang sangat strategis. Media bukan hanya tempat menjual ruang iklan. Media adalah bagian dari ekosistem informasi masyarakat. Media dapat mengawal isu IPSR melalui pemberitaan yang akurat, kritis, berbasis bukti, sekaligus menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai pertimbangan utama. Media dapat membantu masyarakat memahami bahwa persoalan rokok bukan hanya soal orang dewasa yang memilih merokok, tetapi juga tentang lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang.

Namun, di sinilah tantangannya. Kita membutuhkan penguatan perspektif perlindungan anak dalam pemberitaan media. Ketika mengangkat isu rokok, media perlu tetap memperhatikan privasi, identitas, martabat, dan keselamatan anak. Jangan sampai anak justru menjadi objek pemberitaan yang dieksploitasi. Media harus mampu memberitakan isu pengendalian tembakau secara kritis tanpa mengorbankan hak-hak anak.

Saya melihat persoalan ini semakin kompleks ketika kepentingan bisnis mulai bersinggungan dengan fungsi media sebagai penjaga kepentingan publik. Kalau perusahaan rokok memiliki kepentingan besar di industri media, maka pertanyaan publik menjadi relevan: sejauh mana media tersebut dapat benar-benar independen dalam mengawal isu pengendalian tembakau? Ini bukan berarti setiap media yang memiliki keterkaitan bisnis dengan industri rokok pasti kehilangan independensinya. Tetapi kepemilikan dan struktur bisnis tetap menjadi sesuatu yang patut diperhatikan karena dapat memengaruhi ruang gerak editorial maupun keputusan bisnis media.

Bagi saya, tantangan terbesar kita bukan sekadar mengatakan, “Stop iklan rokok di media.” Tantangannya adalah memastikan bahwa media tetap memiliki keberanian untuk menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan komersial. Media harus menjadi ruang yang sehat bagi masyarakat, terutama anak-anak. Kalau media justru menjadi salah satu kanal yang terus-menerus membuka pintu bagi promosi rokok, maka upaya perlindungan anak akan selalu menghadapi jalan terjal.

Karena itu, saya kira sudah waktunya kita kembali mendiskusikan posisi media secara serius. Media bukan sekadar industri yang menjual perhatian audiens kepada pengiklan. Media juga memiliki tanggung jawab sosial. Di tengah pembahasan pelarangan total iklan, promosi, dan sponsorship produk tembakau, saya ingin mengajak kita melihat persoalan ini lebih jauh: jangan sampai ketika publik meminta media berhenti mengiklankan rokok, perusahaan rokok justru semakin dekat dengan pemilik media. Kalau itu terjadi, kita menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Dan pada intinya sekarang, yang harus kita lindungi bukan hanya kesehatan, tetapi juga masa depan anak-anak kita.

(Yons Achmad. Pengamat Komunikasi. Pendiri Brandstory.id. Ketua “Gerakan Penyiaran Ramah Anak” (G-PRA)

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *