Brandstory Opinion
Home » Article & News » DICARI, Sosok Pakar Pendidikan Berbasis Adab

DICARI, Sosok Pakar Pendidikan Berbasis Adab

Ketika saya mengetikkan kata “Pakar Pendidikan Nasional” di Google, satu nama yang muncul paling atas adalah Ki Hajar Dewantara. Tentu ini bukan sesuatu yang mengherankan. Gagasan dan pemikirannya tentang pendidikan telah menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Indonesia. Namun, ketika saya mencoba mengetikkan kata “pakar pendidikan berbasis adab”, yang muncul justru bukan nama tokoh Indonesia, melainkan nama dari Malaysia. Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: apakah memang Indonesia belum memiliki sosok yang kuat dalam teori sekaligus praktik pendidikan berbasis adab?

Pertanyaan itu menggelisahkan saya. Sebab, kalau berbicara tentang pendidikan Islam, adab bukanlah perkara tambahan atau sekadar sopan santun. Dalam tradisi keilmuan Islam, adab berkaitan dengan bagaimana seseorang menempatkan sesuatu pada tempatnya, mengenali kedudukan ilmu, menghormati guru, memiliki akhlak kepada sesama, sekaligus memahami tanggung jawabnya sebagai manusia di hadapan Allah.

Padahal, gagasan pendidikan berbasis adab memiliki akar yang kuat dalam pemikiran pendidikan Islam. Salah satu konsep yang banyak dibicarakan adalah ta’dib. Pendidikan tidak semata-mata dipahami sebagai transfer pengetahuan, tetapi sebagai proses penanaman adab sehingga manusia mampu mengenali dan menempatkan segala sesuatu secara tepat. Ilmu tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran, tetapi berujung pada pembentukan manusia yang baik. Dalam konteks Indonesia, gagasan semacam ini sangat relevan ketika dunia pendidikan menghadapi persoalan karakter, krisis keteladanan, orientasi berlebihan pada angka dan prestasi, serta semakin jauhnya hubungan antara ilmu dan akhlak.

Karena itu, melalui kolom ini saya ingin membuat sebuah pengumuman: “DICARI, Sosok Pakar Pendidikan Berbasis Adab.” Yang saya cari bukan sekadar seseorang yang pandai berbicara tentang adab, bukan pula akademisi yang memiliki gelar panjang. Saya mencari sosok yang memiliki kedalaman teori sekaligus pengalaman praktik. Seseorang yang memiliki gagasan pendidikan berbasis adab, telah mengujinya dalam kehidupan nyata, memahami dunia sekolah dan pesantren, mampu berdialog dengan guru dan orang tua, serta memiliki gagasan yang dapat direplikasi oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

Sebagai praktisi komunikasi sekaligus personal branding, saya merasa memiliki kepentingan untuk ikut mencari, mendekatkan, dan menghadirkan sosok seperti itu kepada khalayak. Sebab, gagasan yang baik membutuhkan figur yang mampu menjelaskannya dengan bahasa publik. Indonesia mungkin memiliki banyak guru hebat, kyai, akademisi, pengasuh pesantren, praktisi pendidikan dan pemikir Islam yang selama ini bekerja dalam senyap. Bisa jadi sosok yang saya cari sebenarnya ada, tetapi belum memiliki panggung, belum terhubung dengan media, atau belum dikenal sebagai “Pakar Pendidikan Berbasis Adab.” Di sinilah personal branding seharusnya bekerja: bukan menciptakan kepakaran palsu, melainkan membantu menemukan, mengemas, dan memperkenalkan kepakaran yang memang sudah ada.

Sampai hari ini, saya masih mencarinya. Siapa sosok yang layak menjadi rujukan pendidikan berbasis adab di Indonesia? Siapa yang memiliki otoritas keilmuan, pengalaman praktik, karya, dan keteladanan yang cukup untuk menjadi referensi bagi sekolah, pesantren, kampus, guru dan lembaga pendidikan Islam?

Saya membuka pencarian ini kepada siapa saja. Barangkali ada nama yang selama ini luput dari perhatian saya. Jika kawan-kawan memiliki rekomendasi, silakan sampaikan. Mungkin, dari pencarian kecil ini, kita justru sedang menemukan sosok yang kelak bukan hanya dikenal sebagai pakar, tetapi menjadi salah satu rujukan penting bagi masa depan pendidikan Indonesia yang berilmu sekaligus beradab.

(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory.id)

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *