Brandstory Opinion
Home » Article & News » Blunder Dudung “Soal Agama” Kembali Mengemuka

Blunder Dudung “Soal Agama” Kembali Mengemuka

Saat menyambut Hari Anak, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Indonesia, Dudung Abdurachman menyampaikan wejangan kepada para warga binaan anak agar dapat tabah di Lapas Anak Tangerang, Selasa (21/7/26). Katanya, mereka merupakan sosok yang patut dikagumi karena sedang diuji oleh Tuhan, bahkan lebih layak dikagumi dibandingkan orang yang hanya membicarakan agama.⁠⁠

“Ya, kita tidak perlu kagum dengan orang yang terlalu bicara tentang agama, tapi justru kita harus kagum kepada orang-orang yang pernah diuji oleh Tuhan. Nah, sekarang kita sedang diuji, ya kalian sedang diuji. Ya kalian harus menyadari,” ujar Dudung.⁠⁠

Ucapan Dudung “Soal Agama” ini kembali menjadi sorotan publik.

Dulu, ucapan Dudung “Soal Agama” ini juga pernah mengemuka dan menuai kritik.

Dulu, saat menjadi KSAD, Dudung juga pernah menuai kontroversi saat jenderal itu memberi kuliah Subuh di salah satu masjid di Papua di sela kunjungan kerjanya ke Kodam XVII/Cenderawasih. Kala itu, Dudung menyebut soal keimanan seorang Muslim yang mudah terbawa arus perkataan. Menyinggung soal jangan terlalu dalam mempelajari agama.

“Iman taklid, ada iman ilmu, ada iman iyaan, ada iman haq (haqul yaqiin), dan iman hakikat. Oleh karena itu, banyak sebagian dari orang Islam sering terpengaruh katanya hadis ini, katanya hadis itu, kata Nabi Muhammad SAW. Karenanya jangan terlalu dalam, jangan terlalu dalam mempelajari agama. Akhirnya terjadi penyimpangan-penyimpangan,” kata Dudung seperti dikutip dari Twitter Dispenad, Minggu, 5 Desember 2021.

Sosok yang ramai dikenal sebagai “Jenderal Baliho” ini, kini, kembali blunder. Dulu, pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, pernah berikan julukan “Jenderal Baliho” kepada sosok ini. Julukan itu mengarah kepada Dudung yang pernah menurunkan baliho-baliho FPI di Jakarta. Terlepas dari itu, bagaimana tafsir komunikasi publik terkait dengan pernyataan terbaru Dudung ini?

Repon publik pun mengemuka. Beragam komentar netizen seperti “Sedang diuji oleh tuhan” itu bicara agama atau bukan?” “Dari atasan ke bawahan nya kalo ngomong gak pernah beres,” Jangan kagum sama jendral baliho,” “Jgn percaya orang yg mengecilkan peran agama apalagi yg bicara “dikit2 bawa agama,” “Justru karena agama bisa tau mana yg bae mana yng kagak,” “JENDRAL BALIHO ISLAM PHOBIA,” “Masih mo percaya sama ceramah jendral baliho !?

Singkatnya, 99% komentar netizen di Instagram Kumparan yang saya beberapa saya kutip itu menyayangkan pidato Dudung.

Dalam perspektif komunikasi publik, persoalannya tentu bukan semata-mata apakah Dudung bermaksud merendahkan agama atau justru ingin memberikan motivasi kepada warga binaan anak. Persoalan utamanya terletak pada bagaimana sebuah pesan diterima oleh publik.

Dalam teori komunikasi, makna tidak hanya ditentukan oleh niat komunikator (intended meaning), tetapi juga oleh tafsir khalayak (received meaning). Ketika seorang pejabat publik menggunakan frasa seperti “tidak perlu kagum dengan orang yang terlalu bicara tentang agama”, publik akan membacanya melalui pengalaman sosial, politik, dan jejak komunikasi sebelumnya. Apalagi Dudung pernah menuai polemik akibat pernyataan “jangan terlalu dalam mempelajari agama” pada 2021.

Akibatnya, publik tidak menilai pernyataan terbaru itu sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan sebagai pengulangan pola komunikasi yang dianggap problematis. Dalam komunikasi publik, rekam jejak pesan (communication history) menjadi bagian penting dalam membentuk persepsi atas setiap pernyataan baru.

Sebuah saran barangkali perlu diajukan. Di mana komunikasi publik seorang pejabat negara semestinya menerapkan prinsip audience-centered communication, yakni berorientasi pada cara publik menerima pesan, bukan hanya pada apa yang ingin disampaikan. Kini, pidato Dudung itu tak hanya terdengar saat acara berlangsung, tapi telah menyebar keberagam media sosial. Blunder “Soal Agama” yang saya kira sebenarnya tidak perlu terjadi. Kecuali kalau memang sudah jadi watak asli. []

(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory Indonesia)

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *