Event Jatim Media Summit (JMS) 2026, Kamis 30 Juli, memberikan angin segar pencerahan bagi para praktisi media. Para pemangku kepentingan sepakat media tidak lagi bisa bergantung pada model bisnis lama yang hanya mengandalkan trafik dan iklan digital.
Alasan yang mengemuka, transformasi industri media bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar media tetap hidup di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.
Paparan lain yang mengemuka, pantauan menunjukkan penurunan trafik media mencapai sekitar 40 hingga 46 persen dalam setahun terakhir. Hampir semua media mengalami kondisi serupa. Situasi tersebut membuat model bisnis lama berbasis page views, Google AdSense, dan banner advertising tidak lagi mampu menopang keberlangsungan perusahaan media. Belanja iklan juga terus menurun, sementara biaya produksi jurnalisme tetap tinggi.
Di sinilah, usulan hadir, di mana media harus segera membangun sumber pendapatan baru melalui konsep Beyond Media, yakni mengembangkan bisnis di luar aktivitas jurnalistik konvensional. Media harus mulai masuk ke layanan konsultasi komunikasi, pengelolaan komunitas, penyelenggaraan event, produksi konten kreatif, hingga berbagai layanan berbasis teknologi AI.
Salah satu peluang besar yang kini muncul adalah Generative Engine Optimization (GEO), yaitu optimasi konten agar menjadi rujukan utama mesin AI generatif. Kalau dulu bisnis media mengejar SEO, sekarang mulai masuk ke GEO. Konten media yang kredibel akan menjadi referensi utama AI, dan di situlah peluang bisnis baru mulai terbuka.
Catatan di atas tentu menarik. Hanya, muncul pertanyaan sederhana, apakah bisnis media bakal menjadi semakin bersinggungan dengan industri public relations? Catatan saya pribadi, kurang sepakat jika media harus merambah ke layanan konsultan komunikasi. Kasus Tempo yang menawarkan layanan “Komunikasi Strategis” ke Agrimas beberapa waktu lalu, sempat menjadi polemik. Tentu ini terkait dengan etika jurnalistik, konflik kepentingan, juga independensi.
Saya masih setuju ketika media membuka ruang sumber pendapatan baru lewat event atau pengelolaan komunitas. Tapi, ketika sudah masuk ke konten jurnalistik, saya kira idependensinya tetap perlu dijaga. Saya tidak sependapat kalau media dicampur aduk dengan layanan “Komunikasi Strategis”.
Sama halnya dengan umpamanya, Lembaga survei harus dipisah dengan bisnis “Konsultan Politik” karena keduanya berbeda dan rawan konflik kepentingan jika digabung. Saya setuju transformasi bisnis media, tapi prinsip-prinsip dasar jurnalistik tetap mesti dijaga.
Hanya dengan itulah kepercayaan publik bisa didapatkan. Hal ini tidak bakal terjadi jika media menjadi partisan, apalagi sampai berikan layanan “komunikasi Strategis”. Begitu gaess. []
(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory.id)

Comment