Brandstory Opinion
Home » Article & News » Jangan Menua Tanpa Cerita

Jangan Menua Tanpa Cerita

Sebelum mati, apa yang akan kamu wariskan? Pertanyaan ini menghantui saya. Bukan karena saya berpikir tentang kematian, tetapi justru berpikir tentang kehidupan. Tentang apa yang tersisa setelah kita tidak lagi ada. Sebab, semua orang akan sampai pada titik itu. Kita pergi, sementara kehidupan terus berjalan.

Saya sering melihat orang-orang yang meninggal dengan meninggalkan jejak kebaikan. Ada yang mewakafkan tanah untuk masjid, sekolah, pesantren, atau berbagai kepentingan umat. Ada yang meninggalkan lembaga pendidikan yang terus hidup dan melayani banyak orang. Ada pula yang meninggalkan pemikiran dan karya melalui buku-buku yang tetap dibaca, bahkan bertahun-tahun setelah penulisnya tiada. Mereka memang sudah pergi, tetapi sebagian dari dirinya masih tinggal.

Saya selalu terkenang dengan Prof. Kuntowijoyo dengan warisan buku dan pemikirannya. Pemikiran Buya Hamka dengan seabrek warisan buku-bukunya. Ada Pak Natsir, tokoh Dewan Dakwah yang tak sekadar mewariskan sebuah lembaga ternama, buku-bukunya juga menjadi bahan kajian dan rujukan generasi setelahnya. Mereka sekadar contoh intelektual muslim Indonesia yang saya kagumi dengan warisan karya-karyanya.

Bagi saya, ini menarik. Mewariskan pemikiran dan cerita melalui buku sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak harus menjadi tokoh besar, profesor, pejabat, atau orang terkenal. Setiap orang punya pengalaman. Setiap orang pernah jatuh, bangkit, gagal, mencoba lagi, mencintai, kehilangan, bekerja keras, dan melewati berbagai fase kehidupan. Semua itu adalah cerita. Tinggal apakah cerita itu mau kita simpan atau kita abadikan. Begitu juga, setiap orang punya pemikiran dan pengalaman sesuai bidangnya masing-masing.

Bagaimana kalau tidak dituliskan?  Cerita  dan pemikiran itu bisa hilang begitu saja. Memang, selama kita hidup, cerita tentang diri kita bisa dibagikan oleh orang-orang terdekat. Anak-anak mungkin akan bercerita tentang ayah atau ibunya. Teman akan mengenang kebiasaan kita. Murid mungkin mengingat nasihat gurunya. Tetapi setelah waktu berjalan, ingatan manusia juga bisa memudar. Satu generasi berganti generasi berikutnya. Cerita yang dulu begitu penting perlahan bisa berlalu bersama angin.

Itulah mengapa saya semakin percaya pada pentingnya mendokumentasikan kisah hidup. Bukan untuk pamer, apalagi untuk menjadikan diri sendiri sebagai pusat perhatian. Buku bisa menjadi ruang sederhana untuk menyimpan perjalanan hidup: dari mana kita berasal, apa yang pernah kita perjuangkan, siapa saja yang pernah berjasa, kesalahan apa yang pernah kita lakukan, dan pelajaran apa yang akhirnya kita dapatkan.

Barangkali kita merasa hidup kita biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak pernah masuk televisi, tidak punya jabatan tinggi, atau tidak pernah membuat sesuatu yang besar. Tetapi bisa jadi, bagi anak kita, kisah perjuangan kita sangat berarti. Bagi orang lain, pengalaman hidup kita mungkin menjadi pelajaran. Bahkan sebuah kegagalan yang pernah kita alami bisa menjadi penunjuk jalan bagi seseorang yang sedang berada di titik yang sama.

Karena itu, saya suka dengan kalimat: “Jangan menua tanpa cerita.” Menua bukan sekadar bertambahnya usia. Menua seharusnya berarti semakin banyak pengalaman, semakin banyak pelajaran, dan semakin banyak sesuatu yang bisa dibagikan. Kalau usia terus bertambah tetapi tidak ada cerita yang ditinggalkan, rasanya ada yang kurang. Cerita itu tidak harus luar biasa. Yang penting jujur, manusiawi, dan punya makna.

Kabar baiknya, setiap orang punya cerita. Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Dan buku, bagi saya, tetap menjadi salah satu bentuk paling ciamik untuk menjadikannya warisan. Kita mungkin tidak bisa membawa harta, jabatan, atau nama besar selamanya. Tetapi kita bisa meninggalkan jejak melalui cerita dan pemikiran. Maka sebelum benar-benar tua, sebelum waktu memaksa kita berhenti, mungkin ada baiknya kita mulai bertanya lagi kepada diri sendiri: kelak, setelah saya pergi, cerita apa yang ingin saya tinggalkan?

***

Bagaimana kalau kesulitan menuangkannya dalam bentuk tulisan? Nah,semua sudah tahu jawabnya. Saya bersama tim brandstory.id memang sedang giat-giatnya memprovokasi orang, terutama tokoh publik untuk membuat buku, baik berisi pemikiran, pengalaman maupun kisah hidupnya yang paling berkesan. Sang tokoh tinggal duduk dan ceritakan, kita yang akan menyulapnya menjadi buku bermutu. Layak baca dan punya dampak. Bismillah.

(Yons Achmad. Storyteller. Pendiri Brandstory.id)

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *