Brandstory Opinion
Home » Article & News » 2029 Antara Politisi, Media, Konsultan, Lembaga Survei, Relawan dan Influencer, Anda Sebagai Apa?

2029 Antara Politisi, Media, Konsultan, Lembaga Survei, Relawan dan Influencer, Anda Sebagai Apa?

Pemilu 2029 secara waktu memang masih cukup lama. Tapi, secara kalender politik, terasa sudah begitu dekat. Suhu politik sudah menghangat. Beragam isu politik, terutama para kandidat calon presiden sudah mulai sayup-sayup muncul dan dimunculkan. Sementara, para politisi yang bakal bertanding menjadi anggota DPR-RI, DPD atau DPRD juga sudah bersiap-siap. Mereka mulai membangun komunikasi, memperluas jaringan, memperkuat popularitas dan tentu saja mempersiapkan modal politik sejak jauh-jauh hari.

Sepintas, kita bisa petakan peran mereka yang berkepentingan di 2029. Antara politisi, media, konsultan, Lembaga survei, relawan, influencer. Setidaknya, itu beberapa “Pemain politik” menuju 2029 nanti. Pertanyaannya, Anda masuk di mana? Atau sekadar menjadi penonton saja?

Di sini, tentu saya membacanya sebagai semacam peluang saja. Ya, bagaimana kita bisa punya kiprah dalam perjalanan perubahan kebangsaan menuju 2029 tersebut. Barangkali, kita bisa perjelas sedikit masing-masing peran tersebut:

Pertama, politisi. Mereka yang bakal bertarung menjadi anggota Dewan, presiden atau para penguasa daerah. Baik Gubernur, walikota maupun bupati. Orang-orang ini tentu saja sudah sejak dini memastikan diri mempersiapkan semuanya dari awal. Bukan hanya soal pencalonan, tetapi juga membangun reputasi, jaringan, komunikasi dengan masyarakat dan kekuatan politik. Mereka membutuhkan narasi, program, tim, popularitas sekaligus kepercayaan publik. Karena itu, semakin dekat ke 2029, persaingan bukan hanya soal siapa yang paling dikenal, tetapi siapa yang paling dipercaya dan mampu menawarkan gagasan yang relevan.

Kedua, media. Kini, hampir semua orang punya media, yang paling gampang tentu hadirnya media online, bahkan media tanpa web yang kerap disebut homeless media. 2029, apakah mau difokuskan ke sana atau tidak? Media akan tetap menjadi ruang penting untuk membentuk percakapan publik. Bukan hanya media besar, tetapi juga media komunitas, media lokal, kanal YouTube, podcast, newsletter hingga media sosial. Di sinilah peluangnya: siapa yang mampu mengelola media secara konsisten, profesional dan berimbang, sebenarnya sedang ikut menentukan isu apa yang dibicarakan publik.

Ketiga, konsultan politik. Mereka yang berikan advice, nasihat-nasihat politik, sekaligus memberikan panduan sampai pengawalan para politisi, calon anggota dewan, calon kepala daerah meraih kepentingan politiknya. Konsultan politik tidak hanya bekerja ketika masa kampanye tiba. Mereka bisa terlibat sejak penyusunan strategi komunikasi, pemetaan publik, pengelolaan isu, personal branding hingga mitigasi krisis. Di tengah politik yang semakin kompleks, kebutuhan terhadap orang-orang yang mampu membaca situasi sekaligus menerjemahkannya menjadi strategi akan semakin besar.

Keempat, Lembaga survei. Yang ini, Lembaga semacam Lembaga Survei Indonesia, Lembaga Survai Denny JA, Saiful Munjani, Indikator politik dll dipastikan bakal kembali berperan. Termasuk, barangkali Lembaga-lembaga survei baru bakal bermunculan. Survei akan menjadi salah satu alat untuk membaca kecenderungan pemilih, popularitas tokoh, elektabilitas hingga isu yang dianggap penting oleh masyarakat. Namun, peran lembaga survei bukan sekadar menghasilkan angka. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana data tersebut dibaca secara tepat dan disampaikan secara bertanggung jawab agar tidak sekadar menjadi alat pembentuk persepsi politik.

Kelima, relawan. Mereka yang membuat beragam relawan untuk mendukung kandidat politisi tertentu. Nah, mereka ini saya kira juga sudah sejak dini mempersiapkannya, termasuk beredar beragam nama komunitas dibuat. Relawan memiliki kekuatan yang berbeda dengan struktur partai. Mereka bisa bergerak lebih cair, berbasis komunitas, isu, wilayah maupun kedekatan personal dengan kandidat. Di era digital, gerakan relawan juga bisa berkembang sangat cepat melalui media sosial, penggalangan dukungan, kegiatan sosial dan berbagai aktivitas di tengah masyarakat. Mereka bukan sekadar pengumpul suara, tetapi juga bisa menjadi penghubung antara kandidat dengan publik.

Keenam, influencer. Saya bisa masukan misalnya para penulis, aktivis media sosial dan mereka yang secara pribadi punya pengaruh politik. Mereka juga punya peran bangun opini dalam politik. Influencer memiliki kekuatan pada kemampuan membangun perhatian dan percakapan. Satu tulisan, video, podcast atau pernyataan yang mereka sampaikan bisa menyebar luas dan memengaruhi cara publik melihat seorang tokoh atau sebuah isu. Karena itu, menjelang 2029, pertarungan opini tidak hanya terjadi di panggung politik formal, tetapi juga di ruang digital yang setiap hari dikonsumsi masyarakat.

Itulah beberapa “Peran politik” yang bisa dimainkan menuju 2029. Anda termasuk yang mana? Sekali lagi, saya hanya membaca ini sebagai peluang kiprah. Tak salah kita perlu terlibat di dalamnya. Bukan harus menjadi politisi. Bisa menjadi pengelola media, konsultan, peneliti, penggerak relawan, penulis, influencer atau mengambil peran lain yang sesuai dengan keahlian kita. Sebab perubahan Indonesia tidak hanya membutuhkan orang yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi juga orang-orang yang ikut membangun gagasan, mengawal komunikasi dan menggerakkan masyarakat. Untuk Indonesia yang lebih baik.

(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory.id)

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *