Brandstory Opinion
Home » Article & News » Ketika Saya Biayai Sendiri Jurnalisme

Ketika Saya Biayai Sendiri Jurnalisme

Saya percaya publik bisa menjadi cerdas jika memiliki cukup informasi dan fakta. Fakta, salah satu modal penting bagi masyarakat untuk mengambil keputusan. Di sinilah jurnalisme memegang peran. Jurnalisme bukan hanya menyampaikan kabar. Ia membantu publik memahami peristiwa, membaca persoalan, dan menentukan sikap. Tentu, jurnalisme tidak pernah seratus persen menyodorkan seluruh fakta. Jurnalis memilih dan mengonstruksi peristiwa melalui angle atau sudut pandang yang dianggap penting. Namun, pilihan itu harus tetap berpijak pada fakta, verifikasi, dan kepentingan publik.

Untuk mendapatkan fakta, jurnalis harus hadir di lapangan. Mereka harus melihat sendiri peristiwa, menggali informasi, menemukan narasumber yang tepat, melakukan konfirmasi, dan menguji berbagai keterangan. Ada proses panjang sebelum sebuah karya jurnalistik dipublikasikan. Apalagi jika menyangkut jurnalisme investigasi. Tidak cukup hanya duduk di belakang meja dan mengandalkan informasi dari media sosial. Ada kerja lapangan, riset, perjalanan, wawancara, analisis, hingga verifikasi berulang. Semua itu membutuhkan waktu, tenaga, dan tentu saja biaya. Sebab, fakta-fakta penting sering kali justru berada di tempat yang tidak mudah dijangkau. Bahkan, ada fakta yang tidak akan pernah diketahui publik jika tidak ada jurnalis yang bersedia mencarinya.

Sayangnya, lanskap industri media sudah berubah. Bisnis media tidak lagi semanis dahulu. Pendapatan iklan menurun. Kolaborasi konten juga tidak lagi menjadi sandaran yang selalu bisa diandalkan. Banyak koran, majalah, stasiun televisi, dan radio yang akhirnya gulung tikar atau mengurangi aktivitas jurnalistiknya. Para veteran industri media pun harus mencari jalan baru. Sebagian mendirikan media sendiri. Kebanyakan memilih platform digital. Saya termasuk di dalamnya. Kami mungkin tidak lagi memiliki gedung besar atau ruang redaksi yang megah. Tetapi, kecintaan terhadap jurnalisme tidak ikut mati. Justru, di tengah perubahan ini, muncul semangat untuk tetap menghadirkan karya jurnalistik yang independen dan bermutu.

Kini, saya mengambil keputusan yang mungkin dianggap konyol oleh sebagian orang. Saya membiayai sendiri kerja-kerja jurnalistik. Saya mengirim jurnalis ke berbagai kota, terutama untuk melakukan liputan langsung. Ada yang menghasilkan berita teks, ada pula yang dikemas dalam bentuk video. Tentu semuanya membutuhkan anggaran. Transportasi, akomodasi, operasional liputan, peralatan, hingga honor jurnalis harus dipikirkan. Kalau dihitung secara bisnis, mungkin ini bukan keputusan yang menguntungkan. Uang yang dikeluarkan belum tentu kembali melalui pendapatan iklan. Tetapi, saya tidak sedang menghitung semuanya semata-mata dengan pendekatan untung dan rugi. Ada passion yang ingin saya rawat. Ada keyakinan bahwa jurnalisme harus tetap bekerja. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism mengingatkan bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran, sedangkan loyalitas pertamanya adalah kepada warga. Prinsip itu yang ingin terus saya pegang.

Saya sadar, membiayai jurnalisme sendiri bukan berarti saya sedang menyelamatkan dunia pers. Saya juga tidak ingin romantis berlebihan terhadap profesi ini. Jurnalisme tetap harus dikelola secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Namun, saya percaya bahwa ketika industri media sedang menghadapi tekanan ekonomi, tidak boleh semua orang menyerah pada logika pasar. Ada nilai yang harus dipertahankan. Ada kepentingan publik yang harus dilayani. 

Jurnalisme harus tetap menjadi pengawas kekuasaan, penyambung suara masyarakat, sekaligus penyedia informasi yang bisa dipercaya. Sebagaimana prinsip yang ditekankan Kovach dan Rosenstiel, verifikasi adalah pembeda jurnalisme dari propaganda dan sekadar hiburan. Karena itu, saya memilih untuk terus membiayai liputan, meski harus merogoh kocek sendiri. Semua itu, kemudian tayang di media online yang saya kelola.  Mungkin ini terdengar seperti membuang-buang uang. Tetapi, bagi saya, ini bukan semata-mata soal uang. Ini soal kecintaan pada jurnalisme. Itu saja.

(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory.id)

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *