Kolom
Home » Article & News » Tiga Buku yang Saya Amalkan Tahun 2026

Tiga Buku yang Saya Amalkan Tahun 2026

Alhamdulillah, di awal tahun, saya sudah memilih setidaknya tiga buku yang akan saya amalkan ilmunya. Tradisi ini belum pernah saya coba di tahun-tahun sebelumnya secara serius dan tertata dengan baik. Saya sedang ingin mencoba hal-hal baru yang lebih menantang setiap tahun.

Harapannya satu saja. Saya dan tim bisa mendapatkan kisah yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu, tanpa disebutkan detailnya. Tapi secara kualitatif, harapannya, ada kabar-kabar menggembirakan sepanjang tahun ini yang didapatkan, baik harian, mingguan bulanan sampai puncaknya tahunan.

Ketiga buku itu apa saja?

Izinkan saya mencoba mengamalkan ilmu setidaknya pada tiga buku berikut ini.

Pertama, mengubah laku lewat “Atomic Habits”. Konon, prinsip buku karya James Clear ini membahas bagaimana perubahan kecil yang konsisten dapat menghasilkan dampak besar dalam jangka panjang, dengan menekankan bahwa kebiasaan adalah hasil dari sistem yang kita bangun, bukan sekadar tujuan yang ingin dicapai.

Contohnya, beragam. Membaca buku 1 lembar buku sehari, sedekah subuh rutin, cuci piring sendiri setelah makan, rapikan tempat tidur setelah bangun, itu yang lumayan mudah. Selebihnya, rutin bertemu minimal 1 orang perhari, menulis kolom dan buat video singkat sehari satu, tiap hari mengapresiasi orang maupun keluarga sendiri, memberikan kontribusi positif harian pada orang atau lembaga tertentu, ini yang masih butuh effort serius.

Kedua, mengubah cara pandang uang lewat “The Psychology of Money”. Buku karya Morgan Housel ini membahas bagaimana keberhasilan finansial lebih banyak ditentukan oleh perilaku daripada kecerdasan atau pengetahuan teknis tentang keuangan. Begitu juga, menekankan pentingnya hidup di bawah kemampuan, berpikir jangka panjang, dan menghindari keserakahan.

Kalau bahas soal uang,memang cukup menantang. Tapi, baiklah kita coba. Kalau perkara berhemat, tentu jangan ditanya, kurang hemat apa lagi. Solusi pengetahuan keuangan ke depan, semestinya memang mau tak mau harus lipatkan penghasilan (pendapatkan), bukan fokus pada penghematan. Ini pengetahuan dasarnya. Tinggal perilaku (action) nya seperti apa. Nah, saya coba terapkan”trik-trik” menariknya dalam buku itu.

Ketiga, mengubah cara memasarkan dengan “Imersi” lewat “Marketing 6.0”. Buku karya Hermawan Kartajaya dkk ini, tekankan konsep imersi sebagai inti dari pemasaran modern di era teknologi canggih, di mana pemasaran tidak lagi sekadar menyampaikan pesan, tetapi menciptakan pengalaman yang membuat konsumen benar-benar terlibat secara emosional, intelektual, dan kontekstual. “Tenggelam di dalamnya”. Menyatukan kecanggihan teknologi dengan sentuhan kemanusiaan (human-centric), sehingga pengalaman pelanggan terasa relevan, personal, dan bermakna.

Di tahun ini, kami fokus dalam pelayanan “Komunikasi Publik”. Hasil produk layanan, kita coba ragamkan tak hanya “digital” tapi juga versi “Cetak”. Pengalaman yang lebih banyak “Online” kita coba selaraskan dengan sentuhan tatap muka “Offfline”. Sedikit peran kami selanjutnya, mempertemukan, menyatukan, menyediakan “ruang publik” dalam bentuk misalnya podcast, media online, diskusi publik, workshop-workshop “komunikasi publik” dan seterusnya.

Selebihnya, saya dan tim bakal terus rutin mengomunikasikan beragam peluang sinergi dan kolaborasi. Kita coba kerja bareng, berangkat dari nilai-nilai yang dibangun dan disepakati bersama, baru kemudian kerja-kerja teknis dilakukan.

Kini, setidaknya ketiga buku itu yang saya dan tim “amalkan” agar menjadi semacam habitus, semacam “budaya kerja” baik dalam level “diri” maupun “perusahaan”. Terlihat sederhana memang. Tapi saya yakin, semuanya bakal berdampak postitif dan hasilnya terlihat pada hari-hari berikutnya. []

(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory.id)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *